Beberapa Aliran Penting dalam Agama Yahudi
Aliran-aliran dalam suatu keagamaan itu salah satunya yang sangat utama
disebabkan “karena perbedaan pemahaman terhadap ajaran-ajaran tertentu
atau perbedaan interpretasinya”. Perbedaan pemahaman dan interpretasi
ini, kadang-kadang bukan hanya sekedar menimbulkan aliran yang
berbeda-beda, melainkan sering juga menyebabkan terjadinya
ketegangan-ketegangan antara penyokong masing-masing, bahkan tidak
jarang sampai kepada tingkat pertumpahan darah.1)
Diantara aliran-aliran yang akan disebutkan disini sebagai aliran yang
tumbuh dalam agama yahudi adaah: Parisi, Sadduki, Pembaca, Penulis,
golongan essenes dan golongan Zealots atau fanatik.
a. Parisi
Parisi berarti menyendiri atau berpecah. Jadi aliran parisi adalah
aliran yang selalu menyendiri dan selalu berada dalam atau ingin pada
perpecahan. Nama ini adalah nama yang diberikan oleh orang yang tidak
senang terhadap mereka. mereka sendiri menamakan dirinya adalah
pendeta-pendeta agama, atau saudara-saudara dijalan Yehovah atau
Rabbani.
Pengikut aliran ini hamper semua terdiri dari orang-orang kebanyakan.
Mereka terkenal dengan keimanan yang kuat, gagah berani, pengkhotbah
atau penyebar agama. Kebanyakan penganutnya terutama para pemukanya,
hidup membujang, tidak kawin, tinggal dalam biara-biara, condong pada
kehidupan zuhud, dan tidak melaksanakan ibadah-ibadah yang berbentuk
korban. Mereka juga mempercayai adanya hari kiamat dan kebangkitan dalam
kubur, adanya akherat dan percaya pada malaikat.
Menurut mereka bukan taurat saja yang harus diikuti sebagai kitab suci,
karena selain taurat, masih banyak terdapat wasiat-wasiat suci yang
termuat didalamnya, termasuk yang telah diperbincangkan oleh para rabbi
dari generasi kegenerasi, sebagian mungkin telah dituliskan karena
hawatir akan hilang, yaitu Tamlud. Golongan ini termasuk golongan yang
popular, tetapi mereka tidak begitu melibatkan diri dalam soal politik.
Mereka lebih memusatkan perhatian kepada agama dari pada politik. Paham
politik yang diperhatikan mereka hanya soal kebebasan agama, mereka
berkeyakinan bahwa kerajaan Yahudi pada suatu masa nanti akan kembali
jaya dalam kedudukannya. Kerajaan Yahudi akan datang bukan dengan usaha
melalui suatu revolusi, melainkan akan datang dengan cara revelasi.
Pada zaman raja-raja makabi memerintah, aliran ini mendapatkan tempat yang baik dalam kalangan pemerintah. 2)
Yang pertama ditandai dengan rambut lurus panjang, muka masem, mata
melotot, memakai pakaian-pakaian suram, berbau tidak sedap dan selalu
membawa kitab suci.
Kedua merupakan penunjang-penunjang ketaatan yang baik dalam peraturan
dan hukum. Menurut tamlud, parisi yang baik adalah mereka yang mentaati
peraturan karena kecintaannya kepada tuhan. Mereka bersemboyan:
perlakukanlah orang lain seperti kamu ingin diperlakukan , patuhilah
hukum. Karena yang lain dalam hukum hanyalah sekedar komentarnya saja.
b. Sadduki
Saduki merupakan aliran penting yang muncul pada periode menjelang
berakhirnya abad pertama sebelum masehi. Yaitu pada waktu John Hyrcanus
menjadi raja di Yerussalim. Kaum saduki menyokong raja dengan sepenuhnya
maka aliran ini juga pro terhadap pemerintahan Roma. Sadduki berasal
dari kata saduk, yang artinya nama seorang ketua agama yang agung pada
masa sulaiman. Tapi ada pula yang mempunyai kecenderungan untuk
menisbatkan kecenderungan ini kepada seorang petenun atau kain yang
terkenal diabad-abad ketiga sebelum masehi.
Ada kemungkinan nama-nama tersebut diberikan kepada oleh lawan-lawan
mereka yang tidak senang terhadap mereka dengan tujuan untuk menyatakan
sikap menentang, karena golongan ini terkenal dengan keingkarannya
terhadap beberapa soal kepercayaan . disamping itu mereka hanya mengakui
kebenaran yang dipercayai mereka sendiri. Oleh sebab itu mereka
dijuluki Sadduki. Artinya “yang amat membenarkan”.
Menurut mereka, semua pembalasan terhadap manusia terbalas dalam dunia
saja. Mereka tidak mengamalkan Talmud, begitu juga taurat tidak mereka
sucikan keseluruhannya. Keabadian individu, wujud malaikat dan setan,
diingkari mereka. tidak menerima qadla dan qadar, sebaliknya
memepercayai kebebasan mutlak. Semua perbuatan manusia adalah kehendak
manusia sendiri, bukan kehendak Yehovah. Begitu juga, tidak ada juru
selamat yang ditunggu-tunggu.
Sikap ini barangkali disebabkan karena kebanyakan anggota mereka adalah
kaum Aristokrat Pasif yang diam di Baitul Makdis. Mereka sangat
terpengaruh filsafat yunani. Itulah sebabnya kebanyakan penulis dianggap
konsenvatif. Mereka lebih cenderung pada perkumpulan politik daripada
perkumpulan keagamaan. Sikap berlebih-lebihan dalam keyakinan dan ibadat
serta taat pada ajaran-ajaran lisan itu-Talmud-adalah bid’ah dan harus
ditolak, demikian kata mereka.
Diantara dua aliran di atas terdapat persamaan dan perbedaan:
Persamaan: menganggap bahwa aturan-aturan peribadatan sangat diperlukan untuk mendapat keselamatan.
Perbedaan: Pertama: parisi percaya dengan adanya hidup sesudah mati,
sorga, neraka, dan kebangkitan kembali, sedang sadduki menolak semua
itu. Kedua: Sadduki hanya mempercayai kitab taurat, sedang parisi juga
mempercayai hukum-hukum tidak tertulis dan cerita-cerita nenek mereka
yang diyakini bahwa itu dari inspirasi-inspirasi yang diwahyukan tuhan,
dan menyangkut kepercayaan sama halnya dengan taurat. Ketiga: kaum
Sadduki menerima ajaran filsafat Yunani tentang kebebasan mutlak,
sedangkan parisi tidak berfaham demikian, mereka menyatakan, bahwa
kebebasan manusia dibatasi oleh kehendak tuhan.
c. Pembaca
Golongan ini merupakan golongan yang paling kecil diantara aliran-aliran
Yahudi. Mereka baru memperoleh pendukung, bila mana keadaan sadduki dan
parisi sedang dalam kemunduran dan pertentang hebat. Sama halnya dengan
sadduki, mereka Cuma mempedomani kitab taurat saja, tidak menerima
kitab-kitab yang lain, juga tidak mengakui Talmud. Namun, mereka cukup
terkenal juga, karena paling gigih berpegang pada ijtihad.
d. Penulis
Golongan ini adalah merupakan sekumpulan umat Yahudi yang bertugas
menuliskan syariat bagi siapa saja yang memerlukannya. Dengan demikian
mereka sering juga disebut golongan juru tulis agama. Karena tugas
mereka, maka mereka ahli dalam sebagian besar ajaran-ajaran agama yang
terdapat dalam kitab-kitab yang ditulis mereka itu.
Golongan ini juga disebut dengan panggilan Pendeta, atau tuan atau
Rabbi. Karena mereka terkenal sebagi penegak hukum agama. Tapi dalam
bidang politik, mereka mempunyai kecenderungan untuk menyokong setiap
kekuasaan asing, misalnya Persia, Yunani dan Romawi, terutama bila
mereka tersingkir dari profesi mereka.
e. Essenes
Golongan ini tidak melaksanakan korban binatang, mereka mengatakan,
bahwa jiwa mulia adalah satu-satunya korban yang sah, mereka menentang
perbudakan, mereka mengajarkan cinta kepada tuhan, tentang ibadat dan
juga tentang manusia.
Sama seperti sadduki, mereka tidak mau menerima kitab lain selain dari
Taurat, apalagi kitab-kitab yang merupakan hasil karya ulama-ulama
parisi. Mereka hidup mengasingkan diri, berkecipung dalam lapangan
mistik seperti meramalkan masa depan, memercayai qadar mutlak yang
menolak semua kebebasan berbuat dan berkehendak.
f. Golongan fanatik atau zealots
Aliran ini erat kaitannya dengan aliran parisi banyak masalah agama yang
mereka sepakati bersama, bagitupun mereka keduanya bersikat keras
terhadap golongan-golongan lain. sikap mereka melebihi dari orang-orang
yang disebut anti tuhan. Mereka tidak mau tunduk dalam suatu kekuasaan,
bagi mereka mati lebih baik daripada harus luluh pada kekuasaan yang
diatur oleh kekuasaan yang diatur oleh selain Yahudi.
Karena tindakan-tindakan mereka ini, akhirnya para ahli mengatakan bahwa
mereka ini sebenarnya adalah perkumpulan politik, atau organisasi para
penjahat, walaupun pada awalnya mengatakan bahwa organisasi dari banon
agama. Dari segi lain umat yahudi juga dapat dikelompokkan kedalam tiga
golongan besar, yaitu:
a. Yahudi Ortodoks
Adalah golongan umat Yahudi yang masih berpegang teguh atau taat
sepenuhnya pada tradisi-tradisi lama mereka.mereka tetap berkeyakinan,
bahwa segala isi taurat adalah mutlak diturunkan oleh tuhan kepada Musa.
b. Yahudi Konservatif dan
Adalah golongan Yahudi yang masih mempercayai dan menghormati Taurat.
Tetapi mereka menyatakan bahwa taurat itu agar dapat difahami secara
dalam maka harus ditafsirkan dengan penefsiran-penafsiran kitab suci
modern.
c. Yahudi Modern
Menurut golongan ini membaca taurat dengan satu prinsip pandangan
terhadap kebenaran, sebagai kebenaran yang ditentukan oleh kesesuaiannya
dengan akal dan pengalaman.
Senin, 14 Oktober 2013
Minggu, 13 Oktober 2013
MUTU PENDIDIKAN GEOGRAFI DI INDONESIA
PENDIDIKAN GEOGRAFI DI INDONESIA
Perkembangan disiplin ilmu Geografi, secara umum, ditentukan paling tidak oleh 3 (tiga) hal pokok yaitu (1) sistem pendidikan antara lain materi pelajaran Geografi di tingkat SD, SLTP dan SLTA serta kurikulum program studi di perguruan tinggi, (2) kegiatan memasyarakatkan peranan Geografi dan (3) apresiasi pihak pemakai (masyarakat) terhadap profesi dan hasil karya Geografi. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa keluaran dari sistem pendidikan yang tepat akan dapat meningkatkan hasil pemasyarakatan peran Geografi dan pada akhirnya hal tersebut dapat meningkatkan apresiasi berbagai pihak terhadap profesi geografi. Proses demikian selanjutnya menghasilkan umpan balik terhadap perkembangan ilmu Geografi di Indonesia.
Berdasarkan struktur pendidikan formal di Indonesia, secara umum dapat dikelompokan dalam dua tahap yaitu (1) pembelajaran pengetahuan Geografi di tingkat SD, SLTP dan SLTA dan (2) pembelajaran ilmu Geografi di Perguruan Tinggi. Untuk selanjutnya, ke dua tahap pembelajaran tersebut akan ditelaah secara singkat dalam tulisan ini.
1. Tahap pembelajaran pengetahuan Geografi
1. a. Sekolah Dasar
Berdasarkan buku Ilmu Pengetahuan Sosial (Pakpahan, 2003) dapat diketahui bahwa pelajaran Geografi di sekolah dasar mulai diberikan kepada siswa kelas 3 dan menjadi bagian pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Materi pelajaran diawali dengan pengenalan berbagai jenis obyek yang terdapat di lingkungan rumah, sekolah dan tempat lain di sekitarnya. Pengenalan obyek yang dapat dijumpai sehari hari oleh siswa sekolah dasar serta lokasi obyeknya dapat memberi bekal awal pengetahuan Geografi tentang “apa” dan “di mana”. Ketrampilan menyampaikan pengetahuan secara sederhana diberikan dalam bentuk kemampuan menggambar denah tentang berbagai obyek.
Siswa kelas 4, 5 dan 6 diberi pelajaran dengan obyek yang lebih luas mulai dari tingkat kelurahan sampai wilayah Indonesia serta pengenalan nama nama dan letak negara tetangga. Pengenalan bentang alam seperti pantai, gunung, sungai dan pengenalan jenis aktifitas manusia di muka bumi seperti bertani sawah, kebun, hutan, perumahan dan jaringan jalan dapat memberikan bekal pengetahuan awal tentang adanya persamaan dan perbedaan ruang muka bumi, tentunya secara sangat sederhana. Bekal pengetahuan Geografi bagi lulusan sekolah dasar yang telah memperoleh tahap pengenalan atlas dan kemampuan menerangkan letak atau posisi obyek terbatas pada skala nasional merupakan prasyarat minimal untuk proses pembelajaran Geografi pada tingkat sekolah lanjutan. Paling tidak, materi pengetahuan Geografi yang diberikan pada tingkat dasar dapat memicu ketertarikan lulusan sekolah dasar mengembangkan “pola pikir geografi” dalam pelajaran Geografi pada tingkat sekolah lanjutan.
Namun demikian, oleh karena masuk sebagai bagian pelajaran IPS, sejak awal sekolah formal para anak didik telah diberi pemahaman yang kurang tepat tentang substansi ilmu Geografi, seolah olah Geografi adalah ilmu ilmu sosial. Pada tataran pohon keilmuan, Geografi juga mempelajari obyek fisik yang bersifat eksakta seperti klimatologi, geomorfologi dan geologi serta mempelajari teknologi pengolahan data geografis dan berbagai model analisis spasial. Persepsi masyarakat akan semakin bias dengan adanya berbagai informasi tentang latar belakang para guru yang memberikan pengetahuan Geografi bukan lulusan dari pendidikan Geografi.
Keluaran dari proses pembelajaran pada tingkat sekolah dasar seperti yang telah diuraikan memberikan kontribusi terhadap rendahnya mutu pendidikan dasar sehingga menempatkan Indonesia pada ranking 112 dari 145 negara atas Indeks Pembangunan Manusia Indonesia pada tahun 2002, di mana pada tahun 2001 Indonesia menempati ranking 110. Posisi tersebut jauh di bawah Vietnam (109), Philipina (85), Thailand (74), Brunei (31), Singapura (28), Hongkong (26), Jepang (9) dan Amerika Serikat (7). Indeks tersebut diukur berdasarkan nilai dari lima variabel, di samping variabel di atas juga digunakan variabel jumlah penduduk miskin, jumlah kasus kekurangan gizi, jumlah kematian ibu melahirkan dan tingkat pelayanan sosial dasar anak & perempuan seperti imunisasi, persalinan dan sanitasi.
1.b. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Berdasarkan kurikulum pendidikan lanjutan tingkat pertama materi pelajaran Geografi diberikan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri seperti pelajaran Matematika atau Biologi. Materi pelajaran Geografi diberikan mulai kelas I sampai kelas III. Berdasarkan pengkajian terhadap buku Geografi karangan Tim Abdi Guru (2003) yang digunakan oleh para guru, lulusan sekolah lanjutan pertama memperoleh pengetahuan Geografi meliputi :
Kelas I :
peserta didik untuk mulai secara sistematis memahami prinsip prinsip dasar ilmu Geografi, terutama pada konsep ruang muka bumi yang terdiri dari pengetahuan geomorfologi, iklim dan cara menyajikan ke dalam peta, secara sederhana. Para peserta didik mulai memahami batas ruang muka bumi, bukan hanya pada skala lokal, tapi juga skala regional dan global.
Proses pembelajaran pengetahuan Geografi tahap ini dapat disempurnakan terutama pada aspek latar belakang guru yang memberi pelajaran. Para guru dengan latar belakang pendidikan Geografi akan mampu memberikan materi pelajaran lebih baik sehingga dapat mempermudah proses pembelajaran pada tingkat selanjutnya.
1.c. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
Materi pelajaran Geografi pada sekolah lanjutan tingkat atas hanya diberikan pada siswa kelas I dan kelas II. Salah satu faktor yang dapat menghambat kelancaran proses pengembangan ilmu Geografi di Indonesia saat ini adalah tidak adanya materi pelajaran Geografi di kelas III sehingga siswa lulusan SLTA yang ingin melanjutkan studi di perguruan tinggi tidak memiliki bekal informasi bidang ilmu Geografi secara memadai.
Secara ringkas muatan pelajaran Geografi pada tingkat lanjutan atas dapat disederhanakan seperti uraian di bawah ini (Wardiyatmoko dkk, 2003):
Kelas I :
- pendalaman materi pelajaran Geografi tingkat dasar dan lanjutan pertama
seperti tentang permukaan bumi, perairan darat dan laut, cuaca dan iklim,
flora dan fauna, kependudukan dan tentang peta.
- pengenalan tentang teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi
geografi (remote sensing dan geographical information system).
- beberapa pengertian yang perlu disempurnakan dalam tahap ini adalah
antara lain menyangkut definisi geografi karena obyek ruang angkasa tidak
termasuk lingkup geografi, atau geografi regional, geologi, hidrologi adalah
bukan cabang geografi.
Kelas II :
- mengenal istilah dan pengertian pemukiman pedesaan dan perkotaan,
interaksi kota, pusat pertumbuhan, wilayah industri, relokasi industri
- mengenal istilah dan pengertian AFTA 2003
- mengenal istilah kawasan, daerah, wilayah formal
- memperoleh pengetahuan umum tentang berbagai negara di dunia melalui deskripsi geografis secara lebih lengkap
Secara umum materi pelajaran Geografi di sekolah lanjutan seperti diuraikan di atas cukup memadai terutama jika diberikan oleh guru Geografi. Dalam rangka menyempurnakan proses pembelajaran tahap selanjutnya dipandang perlu untuk memberikan pelajaran Geografi bagi siswa kelas III dengan materi mengetahui lebih banyak mengenai “apa saja yang mampu dilakukan oleh Geograf” di berbagai kegiatan pembangunan. Artinya, bagi para lulusan SLTA paling tidak sudah mengetahui dengan baik mengenai bidang pekerjaan yang bagaimana yang dapat ditangani oleh sarjana Geografi.
Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa di samping berkaitan dengan materi pelajaran, faktor latar belakang pendidikan para guru yang mengajar dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Walaupun belum pernah dilakukan penelitian namun dapat diperkirakan bahwa tidak sedikit dijumpai guru yang mengajar Geografi berasal dari disiplin ilmu non Geografi.
Permasalahan yang terjadi pada tahap ini merupakan salah satu hambatan nyata dalam proses pembelajaran pada jenjang pendidikan tinggi antara lain berpengaruh dalam hal jumlah penerimaan dan mutu mahasiswa baru. Dua hal yang perlu segera diatasi adalah (1) pemberian materi pelajaran Geografi bagi siswa kelas 3 dengan materi lebih banyak diarahkan pada “apa yang dapat dikerjakan para geograf” dan (2) meningkatkan jumlah guru Geografi dengan latar belakang pendidikan Geografi.
Telaah materi dan proses pembelajaran mata pelajaran Geografi mulai dari SD sampai SLTA di Indonesia menunjukkan adanya beberapa kelemahan sehingga perlu adanya perbaikan yaitu (1) mata pelajaran Geografi di tingkat SD diberikan tersendiri seperti di tingkat SLTP dan SLTA, (2) penyempurnaan materi kelas I SLTA, (3) pembukaan mata pelajaran Geografi bagi siswa kelas III SLTA dan (4) pelajaran Geografi diasuh oleh guru dengan latar belakang pendidikan Geografi. Pada saat ini terdapat 148.516 SD, 20842 SLTP dan 7785 SLTA (BPS, 2002) dan apabila diasumsikan satu sekolah membutuhkan satu orang guru Geografi maka paling tidak dibutuhkan sebanyak 177143 orang guru Geografi.
Permasalahan
Kondisi pendidikan Geografi di SD,SLTP dan SLTA seperti diuraikan secara hipotetis mengakibatkan lambatnya proses pembelajaran pengetahuan Geografi di Indonesia. Hal tersebut menyebabkan relatif belum berkembangnya “pola pikir geografis” (geographical thinking) yang pada gilirannya berakibat pada rendahnya apresiasi terhadap pentingnya peranan Geografi. Fenomena tersebut terjadi hampir pada semua lapisan masyarakat termasuk para penentu kebijakan dalam pembangunan wilayah tingkat nasional maupun para pengambil keputusan tingkat lokal.
Berdasarkan hal tersebut secara sederhana dapat dikemukakan bahwa terdapat indikasi adanya hubungan antara rendahnya tingkat perkembangan proses pembelajaran pengetahuan Geografi dan adanya berbagai persoalan seperti diuraikan pada bagian awal. Permasalahan pada tahap pembelajaran pengetahuan Geografi selama ini memberikan kontribusi penting dalam proses pendidikan disiplin ilmu Geografi pada tingkat perguruan tinggi.
2. Pembelajaran Geografi di Perguruan Tinggi
Pengkajian bahan ajar atau kurikulum Geografi di perguruan tinggi dibatasi pada program studi strata 1 yang menghasilkan lulusan pendidikan Geografi. Pada saat ini pola pendidikan strata 1 Geografi terdiri atas (1) program pendidikan yang menghasilkan Sarjana Geografi atau yang bersifat keilmuan dan (2) program pendidikan yang menghasilkan Sarjana Kependidikan Geografi atau yang bersifat ilmu kependidikan. Ke dua jenis pendidikan tersebut memiliki tujuan yang berbeda. Dalam makalah ini telaah dilakukan terhadap kurikulum ke dua program studi tersebut.
2.1. Program studi Ilmu Geografi
Pada saat ini di Indonesia terdapat 6(enam) perguruan tinggi penyelenggara pendidikan program studi Geografi yaitu 2(dua) PTN yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada, dan 4(empat) PTS yaitu Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muslim Nusantara Medan, STKIP Abdi Pendidikan dan STKIP PGRI Sumatra Barat (Dikti Depdiknas, 2002). Sementara itu data jumlah mahasiswa aktif tahun 2002 adalah 264 orang (UI) dan 1186 orang (UGM) atau total 1450 orang. Rata rata jumlah mahasiswa yang diterima setiap tahun dari ke dua perguruan tinggi tersebut diperkirakan sebanyak 250 orang dan rata rata jumlah lulusannya sebanyak 150 orang. Dalam tulisan ini data jumlah mahasiswa dan lulusan dari keempat PTS program studi Geografi belum dapat disajikan.
Berdasarkan data tersebut di atas dapat diketahui bahwa jumlah perguruan tinggi penyelenggara program studi Geografi di Indonesia masih relatif sangat sedikit dengan daya tampung sangat terbatas. Dengan asumsi jumlah mahasiswa Geografi dari PTS sama dengan PTN dan jumlah total mahasiswa di Indonesia diperkirakan tidak melebihi angka dua juta , maka jumlah mahasiswa Geografi diperkirakan kurang dari 0.5% dari jumlah mahasiswa di Indonesia. Dari segi lokasi, jumlah provinsi yang memiliki perguruan tinggi penyelenggara program studi Geografi sebanyak kurang dari 20% dari total jumlah provinsi di Indonesia. Fakta tersebut dapat dipandang sebagai salah satu indikator yang dapat menunjukkan masih rendahnya perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap pendidikan Geografi di Indonesia.
Di samping faktor jumlah dan sebaran lokasi PT penyelenggara, faktor lain yang dapat mempengaruhi perkembangan ilmu Geografi adalah belum jelasnya kualifikasi lulusan bagi masyarakat pengguna. Salah satu faktor yang dapat menentukan kualifikasi lulusan adalah tingkat kompetensi dan materi kurikulum program studi. Penyempurnaan kurikulum program studi Geografi, kurikulum inti dan kurikulum nasional, perlu diberi perhatian serius dalam rangka memajukan pendidikan Geografi di Indonesia.
Keberadaan kurikulum baku program studi Geografi antara lain diperlukan oleh BAN PT untuk melakukan evaluasi dan akreditasi secara nasional. Hasil evaluasi BAN PT dapat digunakan oleh setiap penyelenggara program untuk meningkatkan proses belajar mengajar dalam mencapai visi dan misi yang ditetapkan. Selanjutnya akan dilakukan telaah singkat terhadap kurikulum nasional program studi Geografi.
a. Kurikulum nasional
Penyelengaraan pendidikan program studi Geografi di perguruan tinggi pada saat ini masih menggunakan acuan kurnas 1994, walaupun akhir akhir ini proses penyempurnaan kurnas sedang dilaksanakan dan sudah sampai tahap final. Kurikulum inti sebagai komponen terpenting dalam kurnas merupakan acuan pokok bagi setiap program studi penyelenggara pendidikan Geografi sekaligus merupakan salah satu komponen evaluasi dalam pelaksanaan akreditasi BAN PT. Oleh karena itu kurikulum inti dapat digunakan sebagai indikator untuk mengetahui tingkat kompetensi lulusan yang diharapkan atau dengan perkataan lain mutu sarjana Geografi yang bagaimana yang diharapkan saat ini.
b. Kurikulum inti
Diskusi panjang telah dan akan dilakukan secara terus menerus oleh para geograf Indonesia untuk merumuskan mata kuliah muatan kurikulum inti. Forum diskusi formal melalui pertemuan antar program studi dan atau forum organisasi profesi di bawah Ikatan Geograf Indonesia (IGI) melalui ajang seminar nasional, pekan ilmiah tahunan (PIT) atau kongres berusaha menemukan kesepakatan bersama tentang kurikulum inti program studi Geografi. Adanya keragaman dari sudut pandang terhadap konsepsi geografi dan konsep pengembangannya dalam berbagai ajang diskusi diharapkan melahirkan suatu kurikulum inti yang ideal dan layak operasional terutama bagi perguruan tinggi di luar UI dan UGM mengingat keterbatasan SDM dan teknologi yang dimiliki. Dengan demikian akan sekaligus mempermudah pihak BAN-PT dalam menggunakan produk kurikulum inti tersebut untuk melaksanakan evaluasi melalui kegiatan akreditasi secara nasional.
Dalam tulisan ini tidak disajikan materi kurikulum program studi Geografi dari berbagai perguruan tinggi yang ada. Beberapa acuan menyangkut pengertian dan definisi Geografi berbagai literatur dapat dijadikan dasar untuk menyusun konsep kurikulum inti seperti harapan yang telah dijelaskan di atas.
Agar dapat diperoleh “benang merah” konsep pemikiran tentang berbagai definisi Geografi pada setiap jamannya, Haggett (2001) mencoba menyajikan kutipan dari beberapa pengarang sebagai berikut :
-Geography is concerned to provide an accurate, orderly and, relational description of the variable character of the earth’s surface (R. Hartshorne, “Perspectives on the Nature of Geography”, Murray, London, 1959, p.21).
-Its goal is nothing less than an understanding of the vast, interacting system comprising all humanity and its natural environment on yhe surface of the earth (E.A.Ackerman, “Annals of the Association of American Geographers,53”,1963, p.435).
-Geography seeks to explain how the subsystems of the physical environment are organized on the earth’s surface, and how man distributes himself over the earth in relation to physical features and to other men (Ad Hoc Committee on Geography, “The Science of Geography” – Academy of Sciences, Washington, D.C, 1965. p.1).
-Geography … a science concerned with the rational development and testing of theories that explain and predict the spatial distribution and location of various characteristics on the surface of the earth (M.Yeates, “Introduction to Quantitative Analysis in Economic Geography”, Prentice Hall, Engelwood Cliffs, N.J, 1968,p.1)
-Geography is the science of place. Its vision is grand, its view panoramic. It sweeps the surface of the Earth, charting the physical, organic, and cultural terrains…(Science, “Review of Harm deBlij’s Geography Book”, John Wiley, New York, 1995).
-Geography is an integrative discipline that brings together the physical and human dimensions of the world in the study of people, places, and environments (American Geographical Society et all, “Geography for Life”, National Geographic Society, Washington, D.C, 1994).
Walaupun belum dapat memberikan informasi secara lengkap paling tidak definisi definisi di atas memperlihatkan adanya perbedaan kebutuhan manusia pada setiap periode definisi geografi. Perhatian geograf dimulai dengan analisis ruang muka bumi sebagai lingkungan tempat hidup manusia, aspek lingkungan sebagai faktor yang mempengaruhi manusia dalam mengorganisasi dirinya, dilanjutkan dengan bagaimana mengorganisasi ruang muka bumi melalui pendekatan hubungan ekologis terhadap lingkungan manusia, dan pada akhirnya para geograf tertarik mengembangkan konsep keragaman ruang muka bumi dan telaah potensi kekayaannya sesuai karakteristik wilayah masing masing. Oleh karena itu dalam menetapkan kebijakan pembangunan wilayah seyogyanya perlu memperhatikan faktor karakteristik wilayah, sebagai salah satu contoh kritik para geograf saat ini, agar dapat mengurangi persoalan konflik yang menyangkut “tanah” dalam konteks “ruang”.
Dalam rangka menyusun kurikulum inti, pemikiran Haggett (2001 p.764) tentang struktur internal ilmu Geografi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan agar aspek keragaman (diversity) dapat mencerminkan bahwa geografi adalah satu (unity). Pendekatan integratif tersebut terdiri atas (1) spatial analysis yaitu (a) theoretical (spatial interaction theory, diffusion theory, others) dan (b) applied (watershed development, urban problems, others), (2) ecological analysis yaitu (a) theoretical (environmental structures, ecosystems, others) dan (b) applied (natural resources geography, hazard appraisal, others), (3) regional complex analysis yaitu (a) theoretical (regional growth theory, interregional flow theory, others), dan (b) applied (regional forecasting, regional planning, others).
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa konsep pembidangan (geografi fisik dan geografi manusia) sudah tidak relevan saat ini. Oleh karena itu perumusan kurikulum inti seyogyanya mengikuti perkembangan paradigma yang berlaku secara universal agar para geograf Indonesia mampu memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan disiplin ilmu Geografi. Kerangka umum pemikiran Haggett di atas mampu mengakomodasi berbagai persoalan geografis di Indonesia saat ini dan di masa depan sebagai obyek penelitian para geograf seperti contoh persoalan yang dikemukakan pada awal tulisan ini.
Apabila disederhanakan, kurikulum inti paling tidak mencerminkan 3(tiga) ciri utama yaitu (1) core keilmuan (2) kultur masyarakat (3) penguasaan teknologi.
Mata kuliah Meteorologi/Klimatologi, Geologi/Geomorfologi, Kartografi, Konsep dan Metodologi Penelitian Geografi merupakan ciri pertama. Geografi penduduk dan Penggunaan tanah (land use) mengakomodasi ciri ke dua. Mata kuliah SIG dan Penginderaan Jauh mengakomodasi ciri ke tiga. Walaupun masih terbuka ruang untuk didiskusikan lebih lanjut, penguasaan kelompok mata kuliah diatas minimal mampu membentuk ciri seorang “geograf”. Kemampuan merumuskan persoalan yang dihadapi baik oleh pemerintah, swasta atau masyarakat umum akan dapat memberikan nilai tambah bermakna bagi lulusan sekaligus merupakan mata rantai dalam kerangka pengembangan ilmu Geografi.
c. Mata Kuliah Lokal
Materi kurikulum inti yang seragam bagi semua penyelenggara program studi Geografi di Indonesia merupakan sarana untuk menghasilkan sarjana Geografi dengan kompetensi yang tidak berbeda, baik lulusan dari perguruan tinggi negeri maupu n swasta. Artinya, setiap lulusan memiliki core-competence sama. Oleh karena jumlah sks yang dipersyaratkan untuk meraih kesarjanaan melebihi jumlah sks kurikulum inti (144 sks) maka akan terdapat keragaman kurikulum pendidikan pada berbagai program studi Geografi terutama pada mata kuliah muatan lokal (mata kuliah lokal).
Apabila jumlah sks mata kuliah kurikulum inti telah ditetapkan maka jumlah mata kuliah lokal dan jumlah sksnya dapat ditentukan dengan catatan jumlah sks total sebanyak 144 sks. Salah satu alternatif penetapan mata kuliah lokal untuk mencerminkan ciri khusus perguruan tinggi penyelenggara adalah dengan memperhatikan 3 (tiga) hal penting yaitu (1) jumlah dan mutu staf pengajar (2) sarana dan prasarana pendidikan dan (3) kebutuhan pasar. Bertitik tolak dari analisis optimalisasi ke tiga komponen tersebut dapat ditetapkan ciri khusus sarjana Geografi dari masing masing perguruan tinggi. Pada tahap selanjutnya, tingkat kompetensi dan ciri lulusan yang diharapkan tersebut dapat digunakan untuk merumuskan visi dan misi program studi sebagai cermin keinginan di masa depan.
Permasalahan
Pembahasan tentang kurikulum program studi Geografi seperti disampaikan di atas dilakukan dengan tujuan untuk tercapainya kesepakatan adanya kesamaan kualifikasi sarjana Geografi di Indonesia. Kejelasan kualifikasi tenaga sarjana Geografi diperlukan untuk memudahkan para pengguna dalam memanfaatkan profesi Geografi. Faktor tidak jelasnya kualifikasi tersebut selama ini dianggap sebagai salah satu faktor penghambat dalam memasyarakatkan peran Geografi di Indonesia. Beberapa persoalan yang dikemukakan pada bagian awal tulisan ini, secara hipotetis dapat dijadikan salah satu bukti adanya jalinan sebab-akibat.
Pada saat ini, kecuali tiga PTS yang tidak ada datanya, tiga perguruan tinggi penyelenggara program studi Geografi yaitu Departemen Geografi FMIPA UI membuka satu program studi, sedangkan Fakultas Geografi UGM dan Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta membuka lebih dari satu program studi Geografi, dengan nama yang berbeda. Oleh karena ada perbedaan nama program studi maka akan ada perbedaan kompetensi lulusan dan perbedaan kurikulum untuk menghasilkan kompetensi tersebut. Hal inilah yang barangkali selama ini menjadi faktor kesulitan dalam merumuskan core curriculum program studi Geografi di Indonesia. Hal ini akan berbeda jika nama program studi lain kecuali program studi “Geografi” merupakan program pengkhususan atau peminatan.
Keragaman program studi Geografi, baik nama program maupun muatan kurikulumnya menjadi salah satu hambatan dalam pelaksanaan kegiatan akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Salah satu faktor yang menghambat teknis pelaksanaan evaluasi adalah kode program studi dan nama program studi yang ditetapkan Ditjendikti. Program studi bidang Geografi diberi nama program studi Geografi Manusia dan program studi Geografi Fisik dan Lingkungan (BAN-PT, 2003), sedangkan yang digunakan sebagai dasar penyelenggaraan pendidikan sejak awal adalah Surat Keputusan Menteri Pendidikan dengan nama program studi Geografi.
Persoalan inilah yang barangkali dapat dianggap sebagai titik awal untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh terhadap sistem pendidikan program studi Geografi di Indonesia. Untuk itu kepada seluruh geograf yang terlibat langsung dalam pelaksanaan pendidikan Geografi di Indonesia perlu menyatukan visi dan menyusun rencana aksi untuk melahirkan rumusan kompetensi dan struktur kurikulum baku program studi Geografi, dalam waktu yang tidak terlampau lama, untuk meningkatkan peran serta dalam memberikan kontribusi solusi berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa dan negara saat ini dan di masa depan.
B. Program studi Pendidikan Geografi
Dalam bagian ini tidak dimaksudkan untuk melakukan telaah rinci tentang hal hal yang berkaitan dengan kompetensi dan kurikulum program studi akan tetapi pembahasannya lebih difokuskan pada bagaimana pola sebaran perguruan tinggi penyelenggara sebagai “produsen” guru Geografi dan bagaimana pola se baran SD, SLTP dan SLTA dan yang sederajat sebagai “konsumen” di seluruh Indonesia. Melalui kajian ini diharapkan dapat diketahui di wilayah mana saja peluang terjadinya hambatan proses pembelajaran pengetahuan Geografi dan bagaimana alternatif pemecahannya.
Akibat perubahan kebijakan pengembangan perguruan tinggi di Indonesia terjadi perubahan nama institusi pendidikan program studi bidang Pendidikan Geografi dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) menjadi Fakultas Pendidikan di bawah institusi Universitas Negeri. Sebagai contoh IKIP Jakarta menjadi Universitas Negeri Jakarta.
Pada saat ini di seluruh Indonesia terdapat 16 PTN dan 9 (sembilan) PTS penyelenggara program studi Pendidikan Geografi dan tersebar tidak merata di seluruh propinsi dan terkonsentrasi sebagian besar di Jawa seperti terlihat pada peta 2 (Dikti Depdiknas, 2002). Apabila dikaitkan dengan sebaran SD, SLTP dan SLTA sebagai “konsumen” (peta 3) dapat diketahui bahwa beberapa wilayah di Indonesia seperti Kalimantan dan sebagian Sumatra terindikasi potensial kekurangan guru Geografi. Akibat selanjutnya dapat diduga bahwa di daerah daerah tersebut mengalami hambatan dalam proses pembelajaran Geografi dan pada akhirnya secara hipotetis dapat dikatakan bahwa tingkat perkembangan ilmu Geografi di wilayah tersebut relatif lebih rendah dibanding daerah lain.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, kurikulum merupakan salah satu faktor penentu proses pengembangan disiplin ilmu Geografi. Melalui pengamatan terhadap salah satu sampel kurikulum program studi Pendidikan Geografi dapat diketahui bahwa beban studi untuk menjadi sarjana adalah sebanyak 152 sks termasuk skripsi, sekitar 20 % diantaranya adalah muatan mata kuliah pendidikan, sedangkan 80% sisanya adalah mata kuliah Geografi. Apabila diperhatikan, dalam struktur kurikulum terdapat mata kuliah inti bidang Geografi seperti Pengantar / Filsafat Geografi, Geologi / Geomorfologi, Meteorologi / Klimatologi dan terdapat mata kuliah SIG dan Penginderaan Jauh. Berdasarkan materi mata kuliah tersebut dan keragaman mata kuliah sistematik dan regional yang diperoleh selama studi, dapat disimpulkan bahwa lulusan program studi pendidikan Geografi di Indonesia dinilai mampu menjalankan profesi sebagai guru Geografi, baik di SD, SLTP maupun SLTA dan bahkan sebagai dosen di perguruan tinggi sejenis.
Paling tidak ada dua persoalan mendasar dalam hubungannya dengan tulisan ini yaitu (1) bagaimana agar jumlah kebutuhan guru Geografi dapat dipenuhi oleh lulusan PT yang ada?, (2) bagaimana agar tidak terjadi ketimpangan persebaran lokasi “produsen” dengan persebaran lokasi sekolah yang membutuhkan?.
Berdasarkan data jumlah total mahasiswa kependidikan Geografi sebanyak 4133 orang dan jumlah lulusan tahun 2001/2002 sebanyak 691 orang (Dikti Depdiknas, 2002) dan jika diasumsikan seluruh PT di Indonesia hanya mampu menghasilkan lulusan sebanyak 2000 orang setiap tahun, selama 30 tahun terakhir diperkirakan menghasilkan 60000 orang sarjana Pendidikan Geografi, jumlah sekolah dan variabel lain dianggap tetap, maka dibutuhkan waktu paling tidak 50 tahun lagi agar setiap sekolah di Indonesia memiliki seorang guru Geografi.
Apabila dikaitkan dengan kebutuhan guru Geografi di SLTP dan SLTA maka diperkirakan masih diperlukan waktu lebih dari 10 tahun agar dapat memenuhi seluruh SLTP dan SLTA di Indonesia. Angka perkiraan tersebut diungkapkan untuk memberikan informasi awal tentang adanya kekurangan guru Geografi yang selama ini terjadi di Indonesia.
PEMASYARAKATAN PERAN GEOGRAFI
Kegiatan pemasyarakatan peran Geografi dapat dilakukan melalui berbagai cara sesuai kondisi dan dinamika masyarakat, baik jalur formal seperti melalui kegiatan seminar hasil penelitian ilmiah dan penelitian terapan, kegiatan praktis pembangunan wilayah dalam berbagai skala atau jalur non formal antara lain melalui kegiatan lembaga swadaya masyarakat atau individu. Diseminasi hasil penelitian dan pemikiran Geografi melalui berbagai jurnal ilmiah merupakan salah satu cara efektif pemasyarakatan peran Geografi. Organisasi profesi seperti IGI dan IGEGAMA dapat melakukan fungsi sebagai interface untuk memasyarakatkan produk pemikiran akademis Geografi ke dalam lingkungan pemerintah dan swasta.
Keragaman jenis hasil penelitian baik dari segi jumlah dan mutunya serta intensitas komunikasi melalui jaringan masyarakat geografi dapat meningkatkan apresiasi pengguna terhadap peranan Geografi di Indonesia. Di samping itu informasi tentang lapangan kerja dan konsentrasi sebaran lulusan Geografi pada setiap bidang pekerjaan dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana peran Geografi di Indonesia.
Secara umum lapangan kerja bagi lulusan Geografi dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu :
(1) bidang kerja untuk menjaga keberlanjutan eksistensi ilmu Geografi
(2) bidang kerja untuk mendukung pengembangan ilmu Geografi
(3) bidang kerja untuk melaksanakan terapan ilmu Geografi
Di samping itu usaha pengelompokan dapat dilakukan menurut lingkup pekerjaannya seperti pengelolaan lingkungan, pendidikan, SIG dan PJ, kartografi dan perencana, atau menurut institusi kerja seperti perusahaan bisnis atau industri swasta, lembaga pemerintah pusat dan daerah (lokal) , BUMN dan lembaga pendidikan.
Menurut Haggett (2001, p.768) lulusan program studi Geografi di Amerika Serikat paling banyak bekerja pada bidang pengelolaan lingkungan (13%) dan paling sedikit bekerja sebagai perencana (7%) sedangkan berdasarkan institusi kerjanya paling banyak bekerja di perusahaan bisnis/industri swasta (40%) dan paling sedikit bekerja di lembaga pemerintah lokal (10%). Fakta tersebut menunjukkan bahwa sektor swasta di Amerika Serikat memiliki apresiasi paling besar terhadap profesi geograf dibanding sektor lainnya.
Walaupun belum ada penelitian secara lengkap tentang sebaran sarjana Geografi di Indonesia, namun dapat diperkirakan bahwa sekitar 5000 orang lulusan Geografi UI dan UGM tersebar pada semua bidang pekerjaan seperti diuraikan di atas. Secara kualitatif dapat dikemukakan bahwa sebagian besar bekerja pada lembaga pemerintah dan lembaga pendidikan sedangkan paling sedikit bekerja pada lembaga bisnis swasta. Di Samping faktor budaya, faktor lain yang diduga mempengaruhi hal tersebut adalah belum jelasnya selling-point profesi Geografi selama ini.
Berdasarkan data proyek penelitian yang dilaksanakan Pusat Penelitian Geografi Terapan (PPGT) Departemen Geografi FMIPA UI dan informasi tempat bekerja para lulusan Geografi akhir akhir ini ada indikasi semakin besarnya apresiasi masyarakat swasta terhadap profesi dan keahlian Geografi. Hal ini kemungkinan disebabkan antara lain oleh faktor keahlian teknis SIG dan PJ yang dikuasai lulusan Geografi saat ini. Oleh karena itu faktor yang menjadi “selling-point” tersebut dapat secara efektif dimanfaatkan dalam setiap kegiatan pemasyarakatan peranan Geografi di berbagai lingkungan masyarakat.
Upaya pemasyarakatan peran Geografi perlu dilakukan secara intensif karena adanya kecenderungan penurunan perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap keberadaan pendidikan Geografi di Indonesia. Wacana tentang akan dihapuskannya pelajaran Geografi di sekolah adalah sekedar contoh, walaupun pada akhirnya pemerintah menolak pemikiran tersebut. Contoh lain adalah belum adanya kemauan politik pemerintah untuk menetapkan profesi Geografi sebagai profesi penting sejajar dengan ekonomi, hukum atau teknik.
PENUTUP
Persoalan geografis dalam lingkup nasional dan lokal maupun regional dan sektoral seperti yang telah dikemukakan dikaitkan dengan uraian tentang esensi disiplin ilmu Geografi, pendidikan Geografi, pemasyarakatan dan apresiasi terhadap peranan Geografi di Indonesia menghasilkan beberapa temuan penting sebagai berikut :
1. Pelajaran Geografi belum ditetapkan menjadi mata pelajaran wajib di SD dan
diberikan bersama dengan pelajaran sosial lain (di bawah pelajaran IPS).
2. Pelajaran Geografi tidak diberikan kepada siswa kelas III SLTA.
3. Materi pelajaran Geografi di SD, SLTP dan SLTA belum disusun secara berke
sinambungan menurut kompetensi masing masing.
4. Pelajaran Geografi lebih banyak diberikan oleh guru yang tidak memiliki latar
pendidikan sarjana Geografi karena jumlah sarjana pendidikan Geografi
lulusan PT masih belum dapat memenuhi kebutuhan guru Geografi.
5. Beberapa provinsi di Indonesia seperti semua provinsi di Kalimantan, Jambi di
Sumatra dan Sulawesi Tengah menghadapi permasalahan kekurangan guru
Geografi karena tidak adanya perguruan tinggi penyelenggara Geografi.
6. Berdasarkan data yang diperoleh dibutuhkan waktu tidak kurang dari 30 tahun
untuk memenuhi kebutuhan guru Geografi setiap sekolah di seluruh Indonesia
7. Jumlah penyelenggara program studi ilmu Geografi baru ada enam perguruan
tinggi, dua PTN dan empat PTS dan seluruhnya tersebar di lima provinsi atau
baru mencakup sekitar 15% dari seluruh provinsi di Indonesia.
8. Jumlah mahasiswa Geografi di Indonesia diperkirakan baru mencapai kurang
dari 0.5% dari total mahasiswa seluruh perguruan tinggi dan baru meluluskan
sekitar 5000 sarjana Geografi yang telah bekerja di berbagai lembaga baik
pemerintah maupun swasta.
Berdasarkan temuan di atas dapat dikemukakan beberapa kesimpulan umum sebagai berikut :
1. Perkembangan pendidikan Geografi di Indonesia masih dalam tahap awal untuk menemukan jatidiri. Setelah dapat menetapkan kompetensi setiap jenjang pendidikan dari SD hingga PT dengan menetapkan materi ajar atau kurikulum baku maka pada saat itulah baru mulai dilakukan evaluasi untuk menentukan tingkat perkembangan ilmu Geografi di Indonesia.
2. Kondisi pendidikan Geografi yang berlangsung selama ini secara hipotetis
mengakibatkan masih rendahnya apresiasi terhadap peran Geografi baik dalam
lingkup pengambilan keputusan tingkat nasional, regional maupun lokal sehingga
membuka peluang terjadinya berbagai permasalahan seperti dikemukakan dalam awal tulisan ini.
3. Berbagai persoalan terutama yang berkaitan dengan ketiadaan data dan informasi geografis secara lengkap, tepat dan terbaru mengakibatkan inefisiensi baik dari segi tenaga, dana dan waktu dalam kegiatan pembangunan wilayah.
4. Usaha dan komitmen para geograf terutama yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan yang dipandang kurang fokus terhadap substansi permasalahannya merupakan salah satu faktor yang memberikan kontribusi signifikan terhadap kondisi perkembangan pendidikan Geografi saat ini.
Sebagai bagian akhir tulisan disampaikan sebuah harapan pada kesempatan PIT IGI saat ini dapat dilahirkan minimal sebuah draft final kurikulum inti dan kurikulum nasional program studi Geografi dan kesepakatan untuk melahirkan kurikulum pendidikan Geografi sekaligus dengan usaha mengembangkan materi ajar Geografi di sekolah mulai dari SD hingga SLTA, tanpa mengabaikan arti penting berbagai karya ilmiah yang berkaitan dengan tema “ecotourism” seperti ditetapkan panitia PIT IGI 2003.
Perkembangan disiplin ilmu Geografi, secara umum, ditentukan paling tidak oleh 3 (tiga) hal pokok yaitu (1) sistem pendidikan antara lain materi pelajaran Geografi di tingkat SD, SLTP dan SLTA serta kurikulum program studi di perguruan tinggi, (2) kegiatan memasyarakatkan peranan Geografi dan (3) apresiasi pihak pemakai (masyarakat) terhadap profesi dan hasil karya Geografi. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa keluaran dari sistem pendidikan yang tepat akan dapat meningkatkan hasil pemasyarakatan peran Geografi dan pada akhirnya hal tersebut dapat meningkatkan apresiasi berbagai pihak terhadap profesi geografi. Proses demikian selanjutnya menghasilkan umpan balik terhadap perkembangan ilmu Geografi di Indonesia.
Berdasarkan struktur pendidikan formal di Indonesia, secara umum dapat dikelompokan dalam dua tahap yaitu (1) pembelajaran pengetahuan Geografi di tingkat SD, SLTP dan SLTA dan (2) pembelajaran ilmu Geografi di Perguruan Tinggi. Untuk selanjutnya, ke dua tahap pembelajaran tersebut akan ditelaah secara singkat dalam tulisan ini.
1. Tahap pembelajaran pengetahuan Geografi
1. a. Sekolah Dasar
Berdasarkan buku Ilmu Pengetahuan Sosial (Pakpahan, 2003) dapat diketahui bahwa pelajaran Geografi di sekolah dasar mulai diberikan kepada siswa kelas 3 dan menjadi bagian pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Materi pelajaran diawali dengan pengenalan berbagai jenis obyek yang terdapat di lingkungan rumah, sekolah dan tempat lain di sekitarnya. Pengenalan obyek yang dapat dijumpai sehari hari oleh siswa sekolah dasar serta lokasi obyeknya dapat memberi bekal awal pengetahuan Geografi tentang “apa” dan “di mana”. Ketrampilan menyampaikan pengetahuan secara sederhana diberikan dalam bentuk kemampuan menggambar denah tentang berbagai obyek.
Siswa kelas 4, 5 dan 6 diberi pelajaran dengan obyek yang lebih luas mulai dari tingkat kelurahan sampai wilayah Indonesia serta pengenalan nama nama dan letak negara tetangga. Pengenalan bentang alam seperti pantai, gunung, sungai dan pengenalan jenis aktifitas manusia di muka bumi seperti bertani sawah, kebun, hutan, perumahan dan jaringan jalan dapat memberikan bekal pengetahuan awal tentang adanya persamaan dan perbedaan ruang muka bumi, tentunya secara sangat sederhana. Bekal pengetahuan Geografi bagi lulusan sekolah dasar yang telah memperoleh tahap pengenalan atlas dan kemampuan menerangkan letak atau posisi obyek terbatas pada skala nasional merupakan prasyarat minimal untuk proses pembelajaran Geografi pada tingkat sekolah lanjutan. Paling tidak, materi pengetahuan Geografi yang diberikan pada tingkat dasar dapat memicu ketertarikan lulusan sekolah dasar mengembangkan “pola pikir geografi” dalam pelajaran Geografi pada tingkat sekolah lanjutan.
Namun demikian, oleh karena masuk sebagai bagian pelajaran IPS, sejak awal sekolah formal para anak didik telah diberi pemahaman yang kurang tepat tentang substansi ilmu Geografi, seolah olah Geografi adalah ilmu ilmu sosial. Pada tataran pohon keilmuan, Geografi juga mempelajari obyek fisik yang bersifat eksakta seperti klimatologi, geomorfologi dan geologi serta mempelajari teknologi pengolahan data geografis dan berbagai model analisis spasial. Persepsi masyarakat akan semakin bias dengan adanya berbagai informasi tentang latar belakang para guru yang memberikan pengetahuan Geografi bukan lulusan dari pendidikan Geografi.
Keluaran dari proses pembelajaran pada tingkat sekolah dasar seperti yang telah diuraikan memberikan kontribusi terhadap rendahnya mutu pendidikan dasar sehingga menempatkan Indonesia pada ranking 112 dari 145 negara atas Indeks Pembangunan Manusia Indonesia pada tahun 2002, di mana pada tahun 2001 Indonesia menempati ranking 110. Posisi tersebut jauh di bawah Vietnam (109), Philipina (85), Thailand (74), Brunei (31), Singapura (28), Hongkong (26), Jepang (9) dan Amerika Serikat (7). Indeks tersebut diukur berdasarkan nilai dari lima variabel, di samping variabel di atas juga digunakan variabel jumlah penduduk miskin, jumlah kasus kekurangan gizi, jumlah kematian ibu melahirkan dan tingkat pelayanan sosial dasar anak & perempuan seperti imunisasi, persalinan dan sanitasi.
1.b. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Berdasarkan kurikulum pendidikan lanjutan tingkat pertama materi pelajaran Geografi diberikan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri seperti pelajaran Matematika atau Biologi. Materi pelajaran Geografi diberikan mulai kelas I sampai kelas III. Berdasarkan pengkajian terhadap buku Geografi karangan Tim Abdi Guru (2003) yang digunakan oleh para guru, lulusan sekolah lanjutan pertama memperoleh pengetahuan Geografi meliputi :
Kelas I :
- peserta didik dapat menjelaskan pengertian peta, atlas dan globe serta dapat mengetahui cara menggunakannya.
- peserta didik dapat menjelaskan keadaan wilayah Indonesia ditinjau dari beberapa aspek geografi seperti luas dan letak, morfologi dan iklim.
- peserta didik dapat menjelaskan keadaan sumberdaya manusia dan permasalahannya.
- peserta didik dapat menjelaskan tata kehidupan sosial dan budaya.
- peserta didik dapat menjelaskan keadaan geografi negara tetangga dan hubungannya dengan Indonesia.
- peserta didik dapat menjelaskan sumberdaya alam Indonesia dan pemanfaatannya serta upaya pelestariannya.
- peserta didik dapat menjelaskan berbagai kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dan hasil hasilnya.
- peserta didik dapat menjelaskan kegiatan ekonomi penduduk seperti perindustrian, perdagangan dan perhubungan.
- peserta didik dapat menjelaskan pembagian muka bumi atas beberapa benua dan daratan.
- peserta didik dapat menjelaskan beberapa ciri khas dari berbagai benua
- peserta didik dapat menjelaskan potensi alam dan penduduk dunia.
- Peserta didik dapat menjelaskan manfaat kerja sama internasional.
peserta didik untuk mulai secara sistematis memahami prinsip prinsip dasar ilmu Geografi, terutama pada konsep ruang muka bumi yang terdiri dari pengetahuan geomorfologi, iklim dan cara menyajikan ke dalam peta, secara sederhana. Para peserta didik mulai memahami batas ruang muka bumi, bukan hanya pada skala lokal, tapi juga skala regional dan global.
Proses pembelajaran pengetahuan Geografi tahap ini dapat disempurnakan terutama pada aspek latar belakang guru yang memberi pelajaran. Para guru dengan latar belakang pendidikan Geografi akan mampu memberikan materi pelajaran lebih baik sehingga dapat mempermudah proses pembelajaran pada tingkat selanjutnya.
1.c. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
Materi pelajaran Geografi pada sekolah lanjutan tingkat atas hanya diberikan pada siswa kelas I dan kelas II. Salah satu faktor yang dapat menghambat kelancaran proses pengembangan ilmu Geografi di Indonesia saat ini adalah tidak adanya materi pelajaran Geografi di kelas III sehingga siswa lulusan SLTA yang ingin melanjutkan studi di perguruan tinggi tidak memiliki bekal informasi bidang ilmu Geografi secara memadai.
Secara ringkas muatan pelajaran Geografi pada tingkat lanjutan atas dapat disederhanakan seperti uraian di bawah ini (Wardiyatmoko dkk, 2003):
Kelas I :
- pendalaman materi pelajaran Geografi tingkat dasar dan lanjutan pertama
seperti tentang permukaan bumi, perairan darat dan laut, cuaca dan iklim,
flora dan fauna, kependudukan dan tentang peta.
- pengenalan tentang teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi
geografi (remote sensing dan geographical information system).
- beberapa pengertian yang perlu disempurnakan dalam tahap ini adalah
antara lain menyangkut definisi geografi karena obyek ruang angkasa tidak
termasuk lingkup geografi, atau geografi regional, geologi, hidrologi adalah
bukan cabang geografi.
Kelas II :
- mengenal istilah dan pengertian pemukiman pedesaan dan perkotaan,
interaksi kota, pusat pertumbuhan, wilayah industri, relokasi industri
- mengenal istilah dan pengertian AFTA 2003
- mengenal istilah kawasan, daerah, wilayah formal
- memperoleh pengetahuan umum tentang berbagai negara di dunia melalui deskripsi geografis secara lebih lengkap
Secara umum materi pelajaran Geografi di sekolah lanjutan seperti diuraikan di atas cukup memadai terutama jika diberikan oleh guru Geografi. Dalam rangka menyempurnakan proses pembelajaran tahap selanjutnya dipandang perlu untuk memberikan pelajaran Geografi bagi siswa kelas III dengan materi mengetahui lebih banyak mengenai “apa saja yang mampu dilakukan oleh Geograf” di berbagai kegiatan pembangunan. Artinya, bagi para lulusan SLTA paling tidak sudah mengetahui dengan baik mengenai bidang pekerjaan yang bagaimana yang dapat ditangani oleh sarjana Geografi.
Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa di samping berkaitan dengan materi pelajaran, faktor latar belakang pendidikan para guru yang mengajar dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Walaupun belum pernah dilakukan penelitian namun dapat diperkirakan bahwa tidak sedikit dijumpai guru yang mengajar Geografi berasal dari disiplin ilmu non Geografi.
Permasalahan yang terjadi pada tahap ini merupakan salah satu hambatan nyata dalam proses pembelajaran pada jenjang pendidikan tinggi antara lain berpengaruh dalam hal jumlah penerimaan dan mutu mahasiswa baru. Dua hal yang perlu segera diatasi adalah (1) pemberian materi pelajaran Geografi bagi siswa kelas 3 dengan materi lebih banyak diarahkan pada “apa yang dapat dikerjakan para geograf” dan (2) meningkatkan jumlah guru Geografi dengan latar belakang pendidikan Geografi.
Telaah materi dan proses pembelajaran mata pelajaran Geografi mulai dari SD sampai SLTA di Indonesia menunjukkan adanya beberapa kelemahan sehingga perlu adanya perbaikan yaitu (1) mata pelajaran Geografi di tingkat SD diberikan tersendiri seperti di tingkat SLTP dan SLTA, (2) penyempurnaan materi kelas I SLTA, (3) pembukaan mata pelajaran Geografi bagi siswa kelas III SLTA dan (4) pelajaran Geografi diasuh oleh guru dengan latar belakang pendidikan Geografi. Pada saat ini terdapat 148.516 SD, 20842 SLTP dan 7785 SLTA (BPS, 2002) dan apabila diasumsikan satu sekolah membutuhkan satu orang guru Geografi maka paling tidak dibutuhkan sebanyak 177143 orang guru Geografi.
Permasalahan
Kondisi pendidikan Geografi di SD,SLTP dan SLTA seperti diuraikan secara hipotetis mengakibatkan lambatnya proses pembelajaran pengetahuan Geografi di Indonesia. Hal tersebut menyebabkan relatif belum berkembangnya “pola pikir geografis” (geographical thinking) yang pada gilirannya berakibat pada rendahnya apresiasi terhadap pentingnya peranan Geografi. Fenomena tersebut terjadi hampir pada semua lapisan masyarakat termasuk para penentu kebijakan dalam pembangunan wilayah tingkat nasional maupun para pengambil keputusan tingkat lokal.
Berdasarkan hal tersebut secara sederhana dapat dikemukakan bahwa terdapat indikasi adanya hubungan antara rendahnya tingkat perkembangan proses pembelajaran pengetahuan Geografi dan adanya berbagai persoalan seperti diuraikan pada bagian awal. Permasalahan pada tahap pembelajaran pengetahuan Geografi selama ini memberikan kontribusi penting dalam proses pendidikan disiplin ilmu Geografi pada tingkat perguruan tinggi.
2. Pembelajaran Geografi di Perguruan Tinggi
Pengkajian bahan ajar atau kurikulum Geografi di perguruan tinggi dibatasi pada program studi strata 1 yang menghasilkan lulusan pendidikan Geografi. Pada saat ini pola pendidikan strata 1 Geografi terdiri atas (1) program pendidikan yang menghasilkan Sarjana Geografi atau yang bersifat keilmuan dan (2) program pendidikan yang menghasilkan Sarjana Kependidikan Geografi atau yang bersifat ilmu kependidikan. Ke dua jenis pendidikan tersebut memiliki tujuan yang berbeda. Dalam makalah ini telaah dilakukan terhadap kurikulum ke dua program studi tersebut.
2.1. Program studi Ilmu Geografi
Pada saat ini di Indonesia terdapat 6(enam) perguruan tinggi penyelenggara pendidikan program studi Geografi yaitu 2(dua) PTN yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada, dan 4(empat) PTS yaitu Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muslim Nusantara Medan, STKIP Abdi Pendidikan dan STKIP PGRI Sumatra Barat (Dikti Depdiknas, 2002). Sementara itu data jumlah mahasiswa aktif tahun 2002 adalah 264 orang (UI) dan 1186 orang (UGM) atau total 1450 orang. Rata rata jumlah mahasiswa yang diterima setiap tahun dari ke dua perguruan tinggi tersebut diperkirakan sebanyak 250 orang dan rata rata jumlah lulusannya sebanyak 150 orang. Dalam tulisan ini data jumlah mahasiswa dan lulusan dari keempat PTS program studi Geografi belum dapat disajikan.
Berdasarkan data tersebut di atas dapat diketahui bahwa jumlah perguruan tinggi penyelenggara program studi Geografi di Indonesia masih relatif sangat sedikit dengan daya tampung sangat terbatas. Dengan asumsi jumlah mahasiswa Geografi dari PTS sama dengan PTN dan jumlah total mahasiswa di Indonesia diperkirakan tidak melebihi angka dua juta , maka jumlah mahasiswa Geografi diperkirakan kurang dari 0.5% dari jumlah mahasiswa di Indonesia. Dari segi lokasi, jumlah provinsi yang memiliki perguruan tinggi penyelenggara program studi Geografi sebanyak kurang dari 20% dari total jumlah provinsi di Indonesia. Fakta tersebut dapat dipandang sebagai salah satu indikator yang dapat menunjukkan masih rendahnya perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap pendidikan Geografi di Indonesia.
Di samping faktor jumlah dan sebaran lokasi PT penyelenggara, faktor lain yang dapat mempengaruhi perkembangan ilmu Geografi adalah belum jelasnya kualifikasi lulusan bagi masyarakat pengguna. Salah satu faktor yang dapat menentukan kualifikasi lulusan adalah tingkat kompetensi dan materi kurikulum program studi. Penyempurnaan kurikulum program studi Geografi, kurikulum inti dan kurikulum nasional, perlu diberi perhatian serius dalam rangka memajukan pendidikan Geografi di Indonesia.
Keberadaan kurikulum baku program studi Geografi antara lain diperlukan oleh BAN PT untuk melakukan evaluasi dan akreditasi secara nasional. Hasil evaluasi BAN PT dapat digunakan oleh setiap penyelenggara program untuk meningkatkan proses belajar mengajar dalam mencapai visi dan misi yang ditetapkan. Selanjutnya akan dilakukan telaah singkat terhadap kurikulum nasional program studi Geografi.
a. Kurikulum nasional
Penyelengaraan pendidikan program studi Geografi di perguruan tinggi pada saat ini masih menggunakan acuan kurnas 1994, walaupun akhir akhir ini proses penyempurnaan kurnas sedang dilaksanakan dan sudah sampai tahap final. Kurikulum inti sebagai komponen terpenting dalam kurnas merupakan acuan pokok bagi setiap program studi penyelenggara pendidikan Geografi sekaligus merupakan salah satu komponen evaluasi dalam pelaksanaan akreditasi BAN PT. Oleh karena itu kurikulum inti dapat digunakan sebagai indikator untuk mengetahui tingkat kompetensi lulusan yang diharapkan atau dengan perkataan lain mutu sarjana Geografi yang bagaimana yang diharapkan saat ini.
b. Kurikulum inti
Diskusi panjang telah dan akan dilakukan secara terus menerus oleh para geograf Indonesia untuk merumuskan mata kuliah muatan kurikulum inti. Forum diskusi formal melalui pertemuan antar program studi dan atau forum organisasi profesi di bawah Ikatan Geograf Indonesia (IGI) melalui ajang seminar nasional, pekan ilmiah tahunan (PIT) atau kongres berusaha menemukan kesepakatan bersama tentang kurikulum inti program studi Geografi. Adanya keragaman dari sudut pandang terhadap konsepsi geografi dan konsep pengembangannya dalam berbagai ajang diskusi diharapkan melahirkan suatu kurikulum inti yang ideal dan layak operasional terutama bagi perguruan tinggi di luar UI dan UGM mengingat keterbatasan SDM dan teknologi yang dimiliki. Dengan demikian akan sekaligus mempermudah pihak BAN-PT dalam menggunakan produk kurikulum inti tersebut untuk melaksanakan evaluasi melalui kegiatan akreditasi secara nasional.
Dalam tulisan ini tidak disajikan materi kurikulum program studi Geografi dari berbagai perguruan tinggi yang ada. Beberapa acuan menyangkut pengertian dan definisi Geografi berbagai literatur dapat dijadikan dasar untuk menyusun konsep kurikulum inti seperti harapan yang telah dijelaskan di atas.
Agar dapat diperoleh “benang merah” konsep pemikiran tentang berbagai definisi Geografi pada setiap jamannya, Haggett (2001) mencoba menyajikan kutipan dari beberapa pengarang sebagai berikut :
-Geography is concerned to provide an accurate, orderly and, relational description of the variable character of the earth’s surface (R. Hartshorne, “Perspectives on the Nature of Geography”, Murray, London, 1959, p.21).
-Its goal is nothing less than an understanding of the vast, interacting system comprising all humanity and its natural environment on yhe surface of the earth (E.A.Ackerman, “Annals of the Association of American Geographers,53”,1963, p.435).
-Geography seeks to explain how the subsystems of the physical environment are organized on the earth’s surface, and how man distributes himself over the earth in relation to physical features and to other men (Ad Hoc Committee on Geography, “The Science of Geography” – Academy of Sciences, Washington, D.C, 1965. p.1).
-Geography … a science concerned with the rational development and testing of theories that explain and predict the spatial distribution and location of various characteristics on the surface of the earth (M.Yeates, “Introduction to Quantitative Analysis in Economic Geography”, Prentice Hall, Engelwood Cliffs, N.J, 1968,p.1)
-Geography is the science of place. Its vision is grand, its view panoramic. It sweeps the surface of the Earth, charting the physical, organic, and cultural terrains…(Science, “Review of Harm deBlij’s Geography Book”, John Wiley, New York, 1995).
-Geography is an integrative discipline that brings together the physical and human dimensions of the world in the study of people, places, and environments (American Geographical Society et all, “Geography for Life”, National Geographic Society, Washington, D.C, 1994).
Walaupun belum dapat memberikan informasi secara lengkap paling tidak definisi definisi di atas memperlihatkan adanya perbedaan kebutuhan manusia pada setiap periode definisi geografi. Perhatian geograf dimulai dengan analisis ruang muka bumi sebagai lingkungan tempat hidup manusia, aspek lingkungan sebagai faktor yang mempengaruhi manusia dalam mengorganisasi dirinya, dilanjutkan dengan bagaimana mengorganisasi ruang muka bumi melalui pendekatan hubungan ekologis terhadap lingkungan manusia, dan pada akhirnya para geograf tertarik mengembangkan konsep keragaman ruang muka bumi dan telaah potensi kekayaannya sesuai karakteristik wilayah masing masing. Oleh karena itu dalam menetapkan kebijakan pembangunan wilayah seyogyanya perlu memperhatikan faktor karakteristik wilayah, sebagai salah satu contoh kritik para geograf saat ini, agar dapat mengurangi persoalan konflik yang menyangkut “tanah” dalam konteks “ruang”.
Dalam rangka menyusun kurikulum inti, pemikiran Haggett (2001 p.764) tentang struktur internal ilmu Geografi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan agar aspek keragaman (diversity) dapat mencerminkan bahwa geografi adalah satu (unity). Pendekatan integratif tersebut terdiri atas (1) spatial analysis yaitu (a) theoretical (spatial interaction theory, diffusion theory, others) dan (b) applied (watershed development, urban problems, others), (2) ecological analysis yaitu (a) theoretical (environmental structures, ecosystems, others) dan (b) applied (natural resources geography, hazard appraisal, others), (3) regional complex analysis yaitu (a) theoretical (regional growth theory, interregional flow theory, others), dan (b) applied (regional forecasting, regional planning, others).
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa konsep pembidangan (geografi fisik dan geografi manusia) sudah tidak relevan saat ini. Oleh karena itu perumusan kurikulum inti seyogyanya mengikuti perkembangan paradigma yang berlaku secara universal agar para geograf Indonesia mampu memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan disiplin ilmu Geografi. Kerangka umum pemikiran Haggett di atas mampu mengakomodasi berbagai persoalan geografis di Indonesia saat ini dan di masa depan sebagai obyek penelitian para geograf seperti contoh persoalan yang dikemukakan pada awal tulisan ini.
Apabila disederhanakan, kurikulum inti paling tidak mencerminkan 3(tiga) ciri utama yaitu (1) core keilmuan (2) kultur masyarakat (3) penguasaan teknologi.
Mata kuliah Meteorologi/Klimatologi, Geologi/Geomorfologi, Kartografi, Konsep dan Metodologi Penelitian Geografi merupakan ciri pertama. Geografi penduduk dan Penggunaan tanah (land use) mengakomodasi ciri ke dua. Mata kuliah SIG dan Penginderaan Jauh mengakomodasi ciri ke tiga. Walaupun masih terbuka ruang untuk didiskusikan lebih lanjut, penguasaan kelompok mata kuliah diatas minimal mampu membentuk ciri seorang “geograf”. Kemampuan merumuskan persoalan yang dihadapi baik oleh pemerintah, swasta atau masyarakat umum akan dapat memberikan nilai tambah bermakna bagi lulusan sekaligus merupakan mata rantai dalam kerangka pengembangan ilmu Geografi.
c. Mata Kuliah Lokal
Materi kurikulum inti yang seragam bagi semua penyelenggara program studi Geografi di Indonesia merupakan sarana untuk menghasilkan sarjana Geografi dengan kompetensi yang tidak berbeda, baik lulusan dari perguruan tinggi negeri maupu n swasta. Artinya, setiap lulusan memiliki core-competence sama. Oleh karena jumlah sks yang dipersyaratkan untuk meraih kesarjanaan melebihi jumlah sks kurikulum inti (144 sks) maka akan terdapat keragaman kurikulum pendidikan pada berbagai program studi Geografi terutama pada mata kuliah muatan lokal (mata kuliah lokal).
Apabila jumlah sks mata kuliah kurikulum inti telah ditetapkan maka jumlah mata kuliah lokal dan jumlah sksnya dapat ditentukan dengan catatan jumlah sks total sebanyak 144 sks. Salah satu alternatif penetapan mata kuliah lokal untuk mencerminkan ciri khusus perguruan tinggi penyelenggara adalah dengan memperhatikan 3 (tiga) hal penting yaitu (1) jumlah dan mutu staf pengajar (2) sarana dan prasarana pendidikan dan (3) kebutuhan pasar. Bertitik tolak dari analisis optimalisasi ke tiga komponen tersebut dapat ditetapkan ciri khusus sarjana Geografi dari masing masing perguruan tinggi. Pada tahap selanjutnya, tingkat kompetensi dan ciri lulusan yang diharapkan tersebut dapat digunakan untuk merumuskan visi dan misi program studi sebagai cermin keinginan di masa depan.
Permasalahan
Pembahasan tentang kurikulum program studi Geografi seperti disampaikan di atas dilakukan dengan tujuan untuk tercapainya kesepakatan adanya kesamaan kualifikasi sarjana Geografi di Indonesia. Kejelasan kualifikasi tenaga sarjana Geografi diperlukan untuk memudahkan para pengguna dalam memanfaatkan profesi Geografi. Faktor tidak jelasnya kualifikasi tersebut selama ini dianggap sebagai salah satu faktor penghambat dalam memasyarakatkan peran Geografi di Indonesia. Beberapa persoalan yang dikemukakan pada bagian awal tulisan ini, secara hipotetis dapat dijadikan salah satu bukti adanya jalinan sebab-akibat.
Pada saat ini, kecuali tiga PTS yang tidak ada datanya, tiga perguruan tinggi penyelenggara program studi Geografi yaitu Departemen Geografi FMIPA UI membuka satu program studi, sedangkan Fakultas Geografi UGM dan Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta membuka lebih dari satu program studi Geografi, dengan nama yang berbeda. Oleh karena ada perbedaan nama program studi maka akan ada perbedaan kompetensi lulusan dan perbedaan kurikulum untuk menghasilkan kompetensi tersebut. Hal inilah yang barangkali selama ini menjadi faktor kesulitan dalam merumuskan core curriculum program studi Geografi di Indonesia. Hal ini akan berbeda jika nama program studi lain kecuali program studi “Geografi” merupakan program pengkhususan atau peminatan.
Keragaman program studi Geografi, baik nama program maupun muatan kurikulumnya menjadi salah satu hambatan dalam pelaksanaan kegiatan akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Salah satu faktor yang menghambat teknis pelaksanaan evaluasi adalah kode program studi dan nama program studi yang ditetapkan Ditjendikti. Program studi bidang Geografi diberi nama program studi Geografi Manusia dan program studi Geografi Fisik dan Lingkungan (BAN-PT, 2003), sedangkan yang digunakan sebagai dasar penyelenggaraan pendidikan sejak awal adalah Surat Keputusan Menteri Pendidikan dengan nama program studi Geografi.
Persoalan inilah yang barangkali dapat dianggap sebagai titik awal untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh terhadap sistem pendidikan program studi Geografi di Indonesia. Untuk itu kepada seluruh geograf yang terlibat langsung dalam pelaksanaan pendidikan Geografi di Indonesia perlu menyatukan visi dan menyusun rencana aksi untuk melahirkan rumusan kompetensi dan struktur kurikulum baku program studi Geografi, dalam waktu yang tidak terlampau lama, untuk meningkatkan peran serta dalam memberikan kontribusi solusi berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa dan negara saat ini dan di masa depan.
B. Program studi Pendidikan Geografi
Dalam bagian ini tidak dimaksudkan untuk melakukan telaah rinci tentang hal hal yang berkaitan dengan kompetensi dan kurikulum program studi akan tetapi pembahasannya lebih difokuskan pada bagaimana pola sebaran perguruan tinggi penyelenggara sebagai “produsen” guru Geografi dan bagaimana pola se baran SD, SLTP dan SLTA dan yang sederajat sebagai “konsumen” di seluruh Indonesia. Melalui kajian ini diharapkan dapat diketahui di wilayah mana saja peluang terjadinya hambatan proses pembelajaran pengetahuan Geografi dan bagaimana alternatif pemecahannya.
Akibat perubahan kebijakan pengembangan perguruan tinggi di Indonesia terjadi perubahan nama institusi pendidikan program studi bidang Pendidikan Geografi dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) menjadi Fakultas Pendidikan di bawah institusi Universitas Negeri. Sebagai contoh IKIP Jakarta menjadi Universitas Negeri Jakarta.
Pada saat ini di seluruh Indonesia terdapat 16 PTN dan 9 (sembilan) PTS penyelenggara program studi Pendidikan Geografi dan tersebar tidak merata di seluruh propinsi dan terkonsentrasi sebagian besar di Jawa seperti terlihat pada peta 2 (Dikti Depdiknas, 2002). Apabila dikaitkan dengan sebaran SD, SLTP dan SLTA sebagai “konsumen” (peta 3) dapat diketahui bahwa beberapa wilayah di Indonesia seperti Kalimantan dan sebagian Sumatra terindikasi potensial kekurangan guru Geografi. Akibat selanjutnya dapat diduga bahwa di daerah daerah tersebut mengalami hambatan dalam proses pembelajaran Geografi dan pada akhirnya secara hipotetis dapat dikatakan bahwa tingkat perkembangan ilmu Geografi di wilayah tersebut relatif lebih rendah dibanding daerah lain.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, kurikulum merupakan salah satu faktor penentu proses pengembangan disiplin ilmu Geografi. Melalui pengamatan terhadap salah satu sampel kurikulum program studi Pendidikan Geografi dapat diketahui bahwa beban studi untuk menjadi sarjana adalah sebanyak 152 sks termasuk skripsi, sekitar 20 % diantaranya adalah muatan mata kuliah pendidikan, sedangkan 80% sisanya adalah mata kuliah Geografi. Apabila diperhatikan, dalam struktur kurikulum terdapat mata kuliah inti bidang Geografi seperti Pengantar / Filsafat Geografi, Geologi / Geomorfologi, Meteorologi / Klimatologi dan terdapat mata kuliah SIG dan Penginderaan Jauh. Berdasarkan materi mata kuliah tersebut dan keragaman mata kuliah sistematik dan regional yang diperoleh selama studi, dapat disimpulkan bahwa lulusan program studi pendidikan Geografi di Indonesia dinilai mampu menjalankan profesi sebagai guru Geografi, baik di SD, SLTP maupun SLTA dan bahkan sebagai dosen di perguruan tinggi sejenis.
Paling tidak ada dua persoalan mendasar dalam hubungannya dengan tulisan ini yaitu (1) bagaimana agar jumlah kebutuhan guru Geografi dapat dipenuhi oleh lulusan PT yang ada?, (2) bagaimana agar tidak terjadi ketimpangan persebaran lokasi “produsen” dengan persebaran lokasi sekolah yang membutuhkan?.
Berdasarkan data jumlah total mahasiswa kependidikan Geografi sebanyak 4133 orang dan jumlah lulusan tahun 2001/2002 sebanyak 691 orang (Dikti Depdiknas, 2002) dan jika diasumsikan seluruh PT di Indonesia hanya mampu menghasilkan lulusan sebanyak 2000 orang setiap tahun, selama 30 tahun terakhir diperkirakan menghasilkan 60000 orang sarjana Pendidikan Geografi, jumlah sekolah dan variabel lain dianggap tetap, maka dibutuhkan waktu paling tidak 50 tahun lagi agar setiap sekolah di Indonesia memiliki seorang guru Geografi.
Apabila dikaitkan dengan kebutuhan guru Geografi di SLTP dan SLTA maka diperkirakan masih diperlukan waktu lebih dari 10 tahun agar dapat memenuhi seluruh SLTP dan SLTA di Indonesia. Angka perkiraan tersebut diungkapkan untuk memberikan informasi awal tentang adanya kekurangan guru Geografi yang selama ini terjadi di Indonesia.
PEMASYARAKATAN PERAN GEOGRAFI
Kegiatan pemasyarakatan peran Geografi dapat dilakukan melalui berbagai cara sesuai kondisi dan dinamika masyarakat, baik jalur formal seperti melalui kegiatan seminar hasil penelitian ilmiah dan penelitian terapan, kegiatan praktis pembangunan wilayah dalam berbagai skala atau jalur non formal antara lain melalui kegiatan lembaga swadaya masyarakat atau individu. Diseminasi hasil penelitian dan pemikiran Geografi melalui berbagai jurnal ilmiah merupakan salah satu cara efektif pemasyarakatan peran Geografi. Organisasi profesi seperti IGI dan IGEGAMA dapat melakukan fungsi sebagai interface untuk memasyarakatkan produk pemikiran akademis Geografi ke dalam lingkungan pemerintah dan swasta.
Keragaman jenis hasil penelitian baik dari segi jumlah dan mutunya serta intensitas komunikasi melalui jaringan masyarakat geografi dapat meningkatkan apresiasi pengguna terhadap peranan Geografi di Indonesia. Di samping itu informasi tentang lapangan kerja dan konsentrasi sebaran lulusan Geografi pada setiap bidang pekerjaan dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana peran Geografi di Indonesia.
Secara umum lapangan kerja bagi lulusan Geografi dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu :
(1) bidang kerja untuk menjaga keberlanjutan eksistensi ilmu Geografi
(2) bidang kerja untuk mendukung pengembangan ilmu Geografi
(3) bidang kerja untuk melaksanakan terapan ilmu Geografi
Di samping itu usaha pengelompokan dapat dilakukan menurut lingkup pekerjaannya seperti pengelolaan lingkungan, pendidikan, SIG dan PJ, kartografi dan perencana, atau menurut institusi kerja seperti perusahaan bisnis atau industri swasta, lembaga pemerintah pusat dan daerah (lokal) , BUMN dan lembaga pendidikan.
Menurut Haggett (2001, p.768) lulusan program studi Geografi di Amerika Serikat paling banyak bekerja pada bidang pengelolaan lingkungan (13%) dan paling sedikit bekerja sebagai perencana (7%) sedangkan berdasarkan institusi kerjanya paling banyak bekerja di perusahaan bisnis/industri swasta (40%) dan paling sedikit bekerja di lembaga pemerintah lokal (10%). Fakta tersebut menunjukkan bahwa sektor swasta di Amerika Serikat memiliki apresiasi paling besar terhadap profesi geograf dibanding sektor lainnya.
Walaupun belum ada penelitian secara lengkap tentang sebaran sarjana Geografi di Indonesia, namun dapat diperkirakan bahwa sekitar 5000 orang lulusan Geografi UI dan UGM tersebar pada semua bidang pekerjaan seperti diuraikan di atas. Secara kualitatif dapat dikemukakan bahwa sebagian besar bekerja pada lembaga pemerintah dan lembaga pendidikan sedangkan paling sedikit bekerja pada lembaga bisnis swasta. Di Samping faktor budaya, faktor lain yang diduga mempengaruhi hal tersebut adalah belum jelasnya selling-point profesi Geografi selama ini.
Berdasarkan data proyek penelitian yang dilaksanakan Pusat Penelitian Geografi Terapan (PPGT) Departemen Geografi FMIPA UI dan informasi tempat bekerja para lulusan Geografi akhir akhir ini ada indikasi semakin besarnya apresiasi masyarakat swasta terhadap profesi dan keahlian Geografi. Hal ini kemungkinan disebabkan antara lain oleh faktor keahlian teknis SIG dan PJ yang dikuasai lulusan Geografi saat ini. Oleh karena itu faktor yang menjadi “selling-point” tersebut dapat secara efektif dimanfaatkan dalam setiap kegiatan pemasyarakatan peranan Geografi di berbagai lingkungan masyarakat.
Upaya pemasyarakatan peran Geografi perlu dilakukan secara intensif karena adanya kecenderungan penurunan perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap keberadaan pendidikan Geografi di Indonesia. Wacana tentang akan dihapuskannya pelajaran Geografi di sekolah adalah sekedar contoh, walaupun pada akhirnya pemerintah menolak pemikiran tersebut. Contoh lain adalah belum adanya kemauan politik pemerintah untuk menetapkan profesi Geografi sebagai profesi penting sejajar dengan ekonomi, hukum atau teknik.
PENUTUP
Persoalan geografis dalam lingkup nasional dan lokal maupun regional dan sektoral seperti yang telah dikemukakan dikaitkan dengan uraian tentang esensi disiplin ilmu Geografi, pendidikan Geografi, pemasyarakatan dan apresiasi terhadap peranan Geografi di Indonesia menghasilkan beberapa temuan penting sebagai berikut :
1. Pelajaran Geografi belum ditetapkan menjadi mata pelajaran wajib di SD dan
diberikan bersama dengan pelajaran sosial lain (di bawah pelajaran IPS).
2. Pelajaran Geografi tidak diberikan kepada siswa kelas III SLTA.
3. Materi pelajaran Geografi di SD, SLTP dan SLTA belum disusun secara berke
sinambungan menurut kompetensi masing masing.
4. Pelajaran Geografi lebih banyak diberikan oleh guru yang tidak memiliki latar
pendidikan sarjana Geografi karena jumlah sarjana pendidikan Geografi
lulusan PT masih belum dapat memenuhi kebutuhan guru Geografi.
5. Beberapa provinsi di Indonesia seperti semua provinsi di Kalimantan, Jambi di
Sumatra dan Sulawesi Tengah menghadapi permasalahan kekurangan guru
Geografi karena tidak adanya perguruan tinggi penyelenggara Geografi.
6. Berdasarkan data yang diperoleh dibutuhkan waktu tidak kurang dari 30 tahun
untuk memenuhi kebutuhan guru Geografi setiap sekolah di seluruh Indonesia
7. Jumlah penyelenggara program studi ilmu Geografi baru ada enam perguruan
tinggi, dua PTN dan empat PTS dan seluruhnya tersebar di lima provinsi atau
baru mencakup sekitar 15% dari seluruh provinsi di Indonesia.
8. Jumlah mahasiswa Geografi di Indonesia diperkirakan baru mencapai kurang
dari 0.5% dari total mahasiswa seluruh perguruan tinggi dan baru meluluskan
sekitar 5000 sarjana Geografi yang telah bekerja di berbagai lembaga baik
pemerintah maupun swasta.
Berdasarkan temuan di atas dapat dikemukakan beberapa kesimpulan umum sebagai berikut :
1. Perkembangan pendidikan Geografi di Indonesia masih dalam tahap awal untuk menemukan jatidiri. Setelah dapat menetapkan kompetensi setiap jenjang pendidikan dari SD hingga PT dengan menetapkan materi ajar atau kurikulum baku maka pada saat itulah baru mulai dilakukan evaluasi untuk menentukan tingkat perkembangan ilmu Geografi di Indonesia.
2. Kondisi pendidikan Geografi yang berlangsung selama ini secara hipotetis
mengakibatkan masih rendahnya apresiasi terhadap peran Geografi baik dalam
lingkup pengambilan keputusan tingkat nasional, regional maupun lokal sehingga
membuka peluang terjadinya berbagai permasalahan seperti dikemukakan dalam awal tulisan ini.
3. Berbagai persoalan terutama yang berkaitan dengan ketiadaan data dan informasi geografis secara lengkap, tepat dan terbaru mengakibatkan inefisiensi baik dari segi tenaga, dana dan waktu dalam kegiatan pembangunan wilayah.
4. Usaha dan komitmen para geograf terutama yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan yang dipandang kurang fokus terhadap substansi permasalahannya merupakan salah satu faktor yang memberikan kontribusi signifikan terhadap kondisi perkembangan pendidikan Geografi saat ini.
Sebagai bagian akhir tulisan disampaikan sebuah harapan pada kesempatan PIT IGI saat ini dapat dilahirkan minimal sebuah draft final kurikulum inti dan kurikulum nasional program studi Geografi dan kesepakatan untuk melahirkan kurikulum pendidikan Geografi sekaligus dengan usaha mengembangkan materi ajar Geografi di sekolah mulai dari SD hingga SLTA, tanpa mengabaikan arti penting berbagai karya ilmiah yang berkaitan dengan tema “ecotourism” seperti ditetapkan panitia PIT IGI 2003.
riset untuk anak pediam
Author : admin
Published Date
Mendidik anak itu gampang-gampang susah, bahkan tidak lebih mudah dibandingkan membesarkannya. Bila Anda terlalu menggampangkan dalam mendidik anak dapat membuat anak terlalu bebas atau merasa tidak diperhatikan. Namun bila Anda mendidik terlalu keras, bisa membuat anak merasa tertekan dan memberontak. Tak sedikit yang menyorot soal mendidik anak ini.
Emosional Anak
Perkembangan emosional anak seringkali membuat para orang tua bingung. Tak jarang yang menyikapinya secara ekspresif dan keras. Bahkan orang tua sering merasa was-was atau khawatir terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada anak. Termasuk ketika anak berubah menjadi pemalu, pendiam, dan senang menyendiri.
Perasaan malu pada anak mulai muncul saat usia satu tahun. Pada saat itu rasa malu timbul karena anak sudah mulai bisa membedakan antara orang-orang yang sudah dikenal dengan orang-orang yang dianggapnya asing. Perasaan malu ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan bisa karena temperamen anak sejak lahir maupun karena pengaruh perlakuan orang tua terhadap anak.
Harapan Tinggi
Ada beberapa jenis perlakuan orang tua yang membuat anak menjadi pemalu. Diantaranya, harapan yang terlalu tinggi dari orang tua terhadap anak. Para orang tua mengharapkan anak menjadi seseorang yang ‘lebih unggul’. Baik menyangkut kepintaran, kecerdasan, ekspresi, kelucuan, maupun perkembangan fisik. Namun harapan orang tua ini justru bisa berbalik menjadi tekanan bagi anak ketika berlebihan.
Artikel psikologi anak banyak yang menyorot sikap berlebihan orang tua dalam melindungi anak, justru akan memberikan efek kurang baik pada anak. Orang tua yang terlalu protektif, banyak memberikan larangan, maupun berbagai pembatasan justru akan membuat anak menjadi takut untuk berbuat dan malu terhadap orang-orang di sekitarnya.
Dalam mendidik anak, orang tua biasanya terjebak pada berbagai ketakutan maupun kejengkelan menghadapi perkembangan kejiwaan anak. Larangan maupun pembatasan orang tua merupakan cermin ketakutan apabila anak-anak ingin bermain akan menjadi kotor, terkena penyakit, jatuh, atau ketakutan lainnya. Sementara pada sisi lain, ketika anak menunjukkan kebandelan dan kebebasan dalam berekspresi seringkali ditangkap sebagai beban yang menjengkelkan orang tua sehingga perlu dibatasi.
Persaingan
Sedangkan faktor lainnya yang mempengaruhi anak menjadi pemalu adalah persaingan antar saudara atau teman sebaya. Seorang anak yang aktif akan mudah bergaul, periang, dan gampang menarik perhatian. Sedangkan anak yang pasif cenderung menarik diri karena kurang mendapat tanggapan dari anak-anak yang lain. Kondisi ini akan semakin membuat anak menjadi pemalu dan tertekan.
Menghadapi anak-anak seperti ini, orang tua perlu melepaskan ambisi dalam mendidik anak. Artikel psikologi anak banyak yang menekankan agar orang tua memberikan kebebasan kepada anak, untuk merasakan apa yang diinginkannya. Terutama saat anak berusia 1 - 5 tahun, keleluasaan dalam berekspresi ini justru akan mengembangkan kejiwaan anak menjadi seseorang yang aktif. Sehingga anak tidak akan menjadi malu atau takut terhadap lingkungannya.
Melihat Kelebihan dan Kelemahan Anak
Setiap anak memiliki karakter spesifik yang berbeda dengan anak lain, meski kembar sekalipun, mereka tetap ada sesuatu yang berbeda dan unik. Inilah yang menjadikan dunia indah dan dinamis. Kahlil Gibran dalam puisinya mengatakan” Anakmu bukanlah milikmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tapi bukan milikmu. Padanya engkau dapat memberikan cintamu, namun bukan fikiranmu.”Kehadiran seorang anak dalam keluarga tentu akan memberikan kebahagiaan yang tiada terkira sekaligus duka yang mendalam jika harapan yang dinanti jauh dari realita. Dalam perjalanan hidup, seringkali orang tua telah membelenggu atau memberikan benang harapan berdasar pada obsesi dan kemauan orang tuanya, bukan apa yang dimiliki dan diinginkan oleh buah hatinya. Betapa marah dan sedihnya orang tua ketika anak semakin dewasa dan menjumpai mereka jauh dari obsesinya. Konflik di antara keduanya akan terjadi, bahkan banyak yang berakhir dengan stres dan depresi, baik dari anak maupun orang tuanya sendiri.
Pada zaman yang serba cepat dan instan seperti sekarang ini, mendidik dan menyiapkan anak untuk menggapai masa depan yang bahagia, tidaklah mudah. Perlu kecerdasan, kesabaran serta keuletan yang perlu disiapkan sejak awal. Globalisasi dan perkembangan IT memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan karakter, keinginan serta harapan anak dalam memilih karir di masa yang akan datang.
Bagi orang tua, perlu melihat dan memahami beberapa kelebihan dan kelemahan anak sebelum membantu mengarahkan pilihan bagi anak. Ada beberapa model tentang anak, pertama, anak yang tahu serta orang tua juga mengetahui. Model seperti ini sering dijumpai pada kondisi keluarga yang saling terbuka dalam komunikasi, memiliki waktu untuk saling memahami. Model seperti ini sangatlah beruntung karena obsesi anak dan orang tua bisa saling bertemu, tidak saling menyalahkan satu sama lain.
Kedua, anak mengetahui mengenai dirinya tetapi orang tua tidak mengetahui. Model seperti ini sering dijumpai pada keluarga yang sangat sibuk sehingga orang tua tidak sempat untuk memahami perilaku atau bakat anaknya akibat rendahnya komunikasi horizontal. Model seperti ini dapat menimbulkan konflik besar jika orang tua tidak mau mengalah sehingga anak harus mematuhi keinginan yang telah dicanangkan sejak dulu. Kita sering menjumpai orang tua yang dulu pernah gagal, maka anak yang diharuskan melanjutkan obsesinya meski bertentangan dengan bakat anak.
Ketiga, anak yang tidak tahu tetapi orang tua memahami mengenai anaknya. Model seperti ini konfliknya agak rendah karena biasanya anak tidak banyak protes dan mengikuti apa yang disarankan oleh orang tuanya. Model seperti ini banyak ditemukan pada keluarga yang komunikasinya juga kurang lancar. Anak kurang terbuka kepada orang tua dan orang tua kemungkinan kurang dapat melakukan komunikasi yang selaras, atau anak sangat pendiam maupun memiliki sifat tertutup.
Keempat, baik anak maupun orang tua sama-sama tidak mengetahui apa yang dimiliki anaknya. Model seperti ini terjadi pada keluarga dengan komunikasi terputus, mereka cuek, tidak saling memahami. Siapa yang akan menjadi dewa penolong dalam kondisi seperti ini. Di sinilah peran guru, konselor, wali kelas, psikolog untuk mengarahkan keduanya.
Berikut ini beberapa kiat bagi orang tua dalam menyiapkan anak mencapai karirnya dengan bahagia. Pertama, Mengenali sifat dasar anak sejak dini, misalnya perkembangan bahasa, motorik, sosial, emosi, serta daya konsentrasinya. Perhatikan dan catat apa yang ditemukan pada tiap tahap perkembangan (siapkan buku harian atau catatan kecil pada setiap anak, untuk menuliskan kejadian-kejadian penting dalam hidupnya).
Kedua, Tanamkan secara halus, setahap demi setahap, tentang kebutuhan dasar semua manusia (dihargai, dicintai, dikasih sayangi, dimiliki). Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka anak akan melakukan hal yang sama kepada orang lain.
Ketiga, Mengajak berkomunikasi dengan tetap menjaga tata krama. Ada saatnya berbentuk vertikal dan ada saatnya horizontal. Selain komunikasi verbal, komunikasi non verbal amatlah penting, yakni dengan menggunakan bahasa mimik, isyarat, bahasa tubuh, bahasa simbol sesuai dengan budayanya masing-masing sehingga anak akan tetap melestarikan budaya lokal yang terekspresi melalui komunikasi.
Keempat, Ajaklah untuk melakukan sosialisasi dengan lingkungan agar anak lentur dan mudah melakukan penyesuaian diri pada tahapan perkembangan berikutnya.
Kelima, Support atau dukung perkembangan psikologisnya dengan melakukan latihan-latihan termasuk melatih anak agar cerdas secara emosional, moral dan sosial.
Keenam, Hindari sikap menghukum anak yang tidak beralasan. Jika anak melakukan pelanggaran dan akan diberi sangsi, pertimbangkan, jenis sangsinya, usianya, cara memberikannya, alasannya, efeknya sehingga tepat.
Ketujuh, Ajaklah untuk mengenal Sang Pencipta. Selain itu, berikan rizki yang halalan toyyiban; arahkan minat dan bakat anak sejak dini agar menjadi profesi; berkonsultasi ke ahli jika menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan perkembangannya.
Menjadi orang tua bukanlah sesuatu yang mudah karena tidak ada sekolah orang tua. Maka ilmu yang dipelajari adalah ilmu empiris sambil berproses. Hampir tidak ada orang tua yang ingin mencelakakan atau benci terhadap anaknya. Yang ada hanyalah orang tua yang terlalu sayang atau khawatir terhadap darah daging jika kelak tidak seperti yang diharapkan.
Langganan:
Komentar (Atom)