Author : admin
Published Date
Mendidik anak itu gampang-gampang susah, bahkan tidak lebih mudah dibandingkan membesarkannya. Bila Anda terlalu menggampangkan dalam mendidik anak dapat membuat anak terlalu bebas atau merasa tidak diperhatikan. Namun bila Anda mendidik terlalu keras, bisa membuat anak merasa tertekan dan memberontak. Tak sedikit yang menyorot soal mendidik anak ini.
Emosional Anak
Perkembangan emosional anak seringkali membuat para orang tua bingung. Tak jarang yang menyikapinya secara ekspresif dan keras. Bahkan orang tua sering merasa was-was atau khawatir terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada anak. Termasuk ketika anak berubah menjadi pemalu, pendiam, dan senang menyendiri.
Perasaan malu pada anak mulai muncul saat usia satu tahun. Pada saat itu rasa malu timbul karena anak sudah mulai bisa membedakan antara orang-orang yang sudah dikenal dengan orang-orang yang dianggapnya asing. Perasaan malu ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan bisa karena temperamen anak sejak lahir maupun karena pengaruh perlakuan orang tua terhadap anak.
Harapan Tinggi
Ada beberapa jenis perlakuan orang tua yang membuat anak menjadi pemalu. Diantaranya, harapan yang terlalu tinggi dari orang tua terhadap anak. Para orang tua mengharapkan anak menjadi seseorang yang ‘lebih unggul’. Baik menyangkut kepintaran, kecerdasan, ekspresi, kelucuan, maupun perkembangan fisik. Namun harapan orang tua ini justru bisa berbalik menjadi tekanan bagi anak ketika berlebihan.
Artikel psikologi anak banyak yang menyorot sikap berlebihan orang tua dalam melindungi anak, justru akan memberikan efek kurang baik pada anak. Orang tua yang terlalu protektif, banyak memberikan larangan, maupun berbagai pembatasan justru akan membuat anak menjadi takut untuk berbuat dan malu terhadap orang-orang di sekitarnya.
Dalam mendidik anak, orang tua biasanya terjebak pada berbagai ketakutan maupun kejengkelan menghadapi perkembangan kejiwaan anak. Larangan maupun pembatasan orang tua merupakan cermin ketakutan apabila anak-anak ingin bermain akan menjadi kotor, terkena penyakit, jatuh, atau ketakutan lainnya. Sementara pada sisi lain, ketika anak menunjukkan kebandelan dan kebebasan dalam berekspresi seringkali ditangkap sebagai beban yang menjengkelkan orang tua sehingga perlu dibatasi.
Persaingan
Sedangkan faktor lainnya yang mempengaruhi anak menjadi pemalu adalah persaingan antar saudara atau teman sebaya. Seorang anak yang aktif akan mudah bergaul, periang, dan gampang menarik perhatian. Sedangkan anak yang pasif cenderung menarik diri karena kurang mendapat tanggapan dari anak-anak yang lain. Kondisi ini akan semakin membuat anak menjadi pemalu dan tertekan.
Menghadapi anak-anak seperti ini, orang tua perlu melepaskan ambisi dalam mendidik anak. Artikel psikologi anak banyak yang menekankan agar orang tua memberikan kebebasan kepada anak, untuk merasakan apa yang diinginkannya. Terutama saat anak berusia 1 - 5 tahun, keleluasaan dalam berekspresi ini justru akan mengembangkan kejiwaan anak menjadi seseorang yang aktif. Sehingga anak tidak akan menjadi malu atau takut terhadap lingkungannya.
Melihat Kelebihan dan Kelemahan Anak
Kehadiran seorang anak dalam keluarga tentu akan memberikan kebahagiaan yang tiada terkira sekaligus duka yang mendalam jika harapan yang dinanti jauh dari realita. Dalam perjalanan hidup, seringkali orang tua telah membelenggu atau memberikan benang harapan berdasar pada obsesi dan kemauan orang tuanya, bukan apa yang dimiliki dan diinginkan oleh buah hatinya. Betapa marah dan sedihnya orang tua ketika anak semakin dewasa dan menjumpai mereka jauh dari obsesinya. Konflik di antara keduanya akan terjadi, bahkan banyak yang berakhir dengan stres dan depresi, baik dari anak maupun orang tuanya sendiri.
Pada zaman yang serba cepat dan instan seperti sekarang ini, mendidik dan menyiapkan anak untuk menggapai masa depan yang bahagia, tidaklah mudah. Perlu kecerdasan, kesabaran serta keuletan yang perlu disiapkan sejak awal. Globalisasi dan perkembangan IT memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan karakter, keinginan serta harapan anak dalam memilih karir di masa yang akan datang.
Bagi orang tua, perlu melihat dan memahami beberapa kelebihan dan kelemahan anak sebelum membantu mengarahkan pilihan bagi anak. Ada beberapa model tentang anak, pertama, anak yang tahu serta orang tua juga mengetahui. Model seperti ini sering dijumpai pada kondisi keluarga yang saling terbuka dalam komunikasi, memiliki waktu untuk saling memahami. Model seperti ini sangatlah beruntung karena obsesi anak dan orang tua bisa saling bertemu, tidak saling menyalahkan satu sama lain.
Kedua, anak mengetahui mengenai dirinya tetapi orang tua tidak mengetahui. Model seperti ini sering dijumpai pada keluarga yang sangat sibuk sehingga orang tua tidak sempat untuk memahami perilaku atau bakat anaknya akibat rendahnya komunikasi horizontal. Model seperti ini dapat menimbulkan konflik besar jika orang tua tidak mau mengalah sehingga anak harus mematuhi keinginan yang telah dicanangkan sejak dulu. Kita sering menjumpai orang tua yang dulu pernah gagal, maka anak yang diharuskan melanjutkan obsesinya meski bertentangan dengan bakat anak.
Ketiga, anak yang tidak tahu tetapi orang tua memahami mengenai anaknya. Model seperti ini konfliknya agak rendah karena biasanya anak tidak banyak protes dan mengikuti apa yang disarankan oleh orang tuanya. Model seperti ini banyak ditemukan pada keluarga yang komunikasinya juga kurang lancar. Anak kurang terbuka kepada orang tua dan orang tua kemungkinan kurang dapat melakukan komunikasi yang selaras, atau anak sangat pendiam maupun memiliki sifat tertutup.
Keempat, baik anak maupun orang tua sama-sama tidak mengetahui apa yang dimiliki anaknya. Model seperti ini terjadi pada keluarga dengan komunikasi terputus, mereka cuek, tidak saling memahami. Siapa yang akan menjadi dewa penolong dalam kondisi seperti ini. Di sinilah peran guru, konselor, wali kelas, psikolog untuk mengarahkan keduanya.
Berikut ini beberapa kiat bagi orang tua dalam menyiapkan anak mencapai karirnya dengan bahagia. Pertama, Mengenali sifat dasar anak sejak dini, misalnya perkembangan bahasa, motorik, sosial, emosi, serta daya konsentrasinya. Perhatikan dan catat apa yang ditemukan pada tiap tahap perkembangan (siapkan buku harian atau catatan kecil pada setiap anak, untuk menuliskan kejadian-kejadian penting dalam hidupnya).
Kedua, Tanamkan secara halus, setahap demi setahap, tentang kebutuhan dasar semua manusia (dihargai, dicintai, dikasih sayangi, dimiliki). Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka anak akan melakukan hal yang sama kepada orang lain.
Ketiga, Mengajak berkomunikasi dengan tetap menjaga tata krama. Ada saatnya berbentuk vertikal dan ada saatnya horizontal. Selain komunikasi verbal, komunikasi non verbal amatlah penting, yakni dengan menggunakan bahasa mimik, isyarat, bahasa tubuh, bahasa simbol sesuai dengan budayanya masing-masing sehingga anak akan tetap melestarikan budaya lokal yang terekspresi melalui komunikasi.
Keempat, Ajaklah untuk melakukan sosialisasi dengan lingkungan agar anak lentur dan mudah melakukan penyesuaian diri pada tahapan perkembangan berikutnya.
Kelima, Support atau dukung perkembangan psikologisnya dengan melakukan latihan-latihan termasuk melatih anak agar cerdas secara emosional, moral dan sosial.
Keenam, Hindari sikap menghukum anak yang tidak beralasan. Jika anak melakukan pelanggaran dan akan diberi sangsi, pertimbangkan, jenis sangsinya, usianya, cara memberikannya, alasannya, efeknya sehingga tepat.
Ketujuh, Ajaklah untuk mengenal Sang Pencipta. Selain itu, berikan rizki yang halalan toyyiban; arahkan minat dan bakat anak sejak dini agar menjadi profesi; berkonsultasi ke ahli jika menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan perkembangannya.
Menjadi orang tua bukanlah sesuatu yang mudah karena tidak ada sekolah orang tua. Maka ilmu yang dipelajari adalah ilmu empiris sambil berproses. Hampir tidak ada orang tua yang ingin mencelakakan atau benci terhadap anaknya. Yang ada hanyalah orang tua yang terlalu sayang atau khawatir terhadap darah daging jika kelak tidak seperti yang diharapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar